SEMARANG, Joglo Jateng – Saat ini, kejayaan kesenian tradisional seperti Ketoprak, sudah tidak lagi bersinar karena tergerus zaman. Selain minim peminat, juga karena faktor pembiayaan yang membuat aktivitas seni tradisional terhimpit. Salah satunya Paguyuban Ketoprak Sri Mulyo yang berada di Jalan Jurang Blimbing, Tembalang Kota Semarang.
Ketua Ketoprak Sri Mulyo, Gimin mengatakan bahwa di tahun 1970-an, kesenian yang ia geluti sempat mengalami masa keemasan. Bahkan bisa tampil hingga enam kali dalam sebulan.
Awalnya anggota Ketoprak Sri Mulyo berjumlah 50 orang dan banyak yang tidak tercatat dalam administrasi. Namun saat ini, hanya tersisa 40 orang saja.
“Ketoprak Sri Mulyo ini diakui dari Dinas Pariwisata dulu sejak tahun 1974. Sebelumnya paguyuban ini sudah ada sejak tahun 1955,” jelasnya ketika ditemui, Rabu (27/7).
Ketoprak Sri Mulyo biasanya tampil untuk mengiringi kegiatan hari-hari besar di berbagai tempat. Selama ini, produktivitasnya masih bergantung pada swadaya para anggotanya. Iuran tersebut digunakan untuk keperluan kostum, alat, serta keperluan lainnya.
“Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus itu kita pasti tampil. Tapi seringkali kita terkendala biaya, hanya swadaya dari para anggota. Pernah dapat bantuan Gayol (gantungan Gong) dari Dosen Undip,” tuturnya.
Gimin, yang saat ini usianya sudah paru baya, juga menceritakan bagaimana paguyubannya terpuruk ketika masa pandemi Covid-19. Selama itu, Ketoprak Sri Mulyo hanya mampu tampil dua kali selama satu tahun. Itupun karena ada acara Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik dari Universitas Negeri Diponegoro (Undip) bdan pembiayaannya ditanggung tim KKN.
“Mau gimana lagi sekarang orang mau nanggap Ketoprak juga mikir-mikir. Kalau kita anggotanya banyak, mending kan nyari kesenian lain yang biaya operasionalnya lebih murah. Alhamdulillahnya selama pandemi ini ada KKN dari Undip jadi kita bisa tampil untuk dibantu biayanya,” ceritanya.
Menurut penuturan Gimin, pada tahun 1986 sebagian warga Kampung Jurang Blimbing terpaksa pindah. Saat itu, tanah mereka digunakan untuk relokasi pembangunan Undip. Para senimannya pun terpencar ke berbagai wilayah.
Namun ada sebagian yang masih bertahan. Ketoprak Sri Mulyo pun sempat vakum dan bangkit kembali di tahun 2000-an.
Saat ditemui di rumahnya di Jalan Jurang Blimbing RW IV, Gimin mengaku pasang surut dunia kesenian sudah banyak dialami. Mulai dari mendapatkan pendapatan Rp 10 ribu hingga Rp 100 ribu pernah ia rasakan.
Ia merasa bahwa jiwa seni sudah mendarah daging di hidupnya. Namun ia juga menyayangkan anak muda yang tidak terlalu mengenal dan mempelajari seni tradisional. Di beberapa kesempatan, ia sempat berupaya untuk mengajak para pemuda melestarikan dan menumbuhkembangkan kesenian tradisional. Sayangnya, usahanya tidak banyak membuahkan hasil.
“Sebisa mungkin saya akan mempertahankan ketoprak ini. Karena ini warisan dari leluhur. Harapannya anak-anak muda bisa ikut melestarikan kesenian budaya agar tidak punah,” ucapnya. (luk/mg2/gih)










