Tingkatkan Kemampuan Menulis Geguritan dengan MEL

Oleh: Dra. Dwi Martini, M.Pd.
Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 4 Sragen, Kabupaten Sragen

MENULIS geguritan merupakan kemampuan untuk menulis sebuah karangan atau kata-kata terindah yang berisi tentang pengalaman, perasaan, ide, gagasan, pemikiran dalam bahasa emosional yang berirama. Menulis dan membaca geguritan merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dapat dikuasai siswa kelas IX SMP N 4 Sragen. Siswa diharapkan dapat terampil mengemukakan gagasan dan perasaannya secara lisan maupun tulis melalui pengembangan keterampilan imajinatif, salah satunya menulis geguritan (puisi). Namun dalam pembelajaran di kelas IX C, ditemukan 55 % siswa merasa tidak mampu karena keterbatasan kosa kata Bahasa Jawa yang dimilikinya, menjadikan sulit menemukan kata-kata yang pas dalam menulis geguritan.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru Bahasa Jawa dalam pembelajaran menerapkan MEL (Model Experiential Learning) dengan harapan siswa akan termotivasi, percaya diri berkreasi untuk menghasilkan karya menulis geguritan dalam mengembangkan imajinasinya. Menurut Fathurrohman (2015), MEL merupakan model pembelajaran yang memperhatikan dan menitikberatkan pada pengalaman yang akan dialami dan dipelajari oleh siswa. Pembelajaran dengan MEL dapat membantu mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata, sehingga dengan pengalaman nyata tersebut siswa dapat mengingat dan memahami informasi yang didapatkan.

Pada dasarnya pembelajaran MEL ini sangat sederhana, dimulai dengan melakukan (do), refleksikan (reflect), dan kemudian penerapan (apply). Penjabarannya meliputi: 1). Belajar dari pengalaman-pengalaman yang spesifik (concrete experience); 2). Mengamati sebelum membuat suatu keputusan dengan mengamati lingkungan dari perspektif -perspektif yang berbeda (reflective observation); 3). Analisis logis dari gagasan-gagasan dan bertindak sesuai pemahaman pada suatu situasi (abstract conceptualization); 4). Kemampuan untuk melaksanakan berbagai hal dengan orang-orang dan melakukan tindakan berdasarkan peristiwa (Active experimentation).

Salah satu kelebihan MEL dalam pelaksanaannya cukup efektif dan efisien untuk membantu siswa dalam keterampilan menulis, karena siswa dihadapkan langsung terhadap objek nyata, sehingga siswa dapat menggali dan mengolah hal yang ada dalam imajinasinya dan kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan indah yang puisi (Silberman : 2015). Supaya lebih menarik, siswa dapat diajak keluar menikmati suasana pembelajaran di luar kelas yang membuat siswa dapat semakin memperkaya ide, gagasan, menuangkan kata-kata kias dan mengekspresikannya. Pengalaman yang mengesankan serta pilihan kata yang tepat, indah dan bermakna dijadikan bahan dalam menulis larik-larik geguritan.

Adapun teknik menulis geguritan dengan MEL melalui sintaks sebagai berikut: 1). Pratulis. Guru merumuskan rencana pengalaman belajar yang bersifat terbuka (open minded) dan memberikan rangsangan, motivasi pengenalan terhadap pengalaman yang mungkin dialami siswa. Siswa menentukan tema yang akan ditulis dari serangkaian peristiwa yang pernah dialaminya; 2). Penulisan. Siswa membuat konsep pengalamannya. Kata-kata yang mengandung ide pokok dikembangkan menjadi kalimat satu, kalimat dua dan seterusnya sehingga terbentuk satu bait. Kalimat satu dengan lainnya dalam satu bait dan bait satu dengan bait lainnya harus ada korelasi dan perpaduan yang baik; 3). Penyuntingan. Siswa memperbaiki ketidaktepatan diksi, kata kias dan majas agar menghasilkan karya yang indah dan berkualitas. Pada bagian akhir barulah ditentukan judul yang menarik. Siswa menulis geguritan dalam waktu yang ditentukan dalam kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan pengalaman di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan MEL dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis geguritan. Terbukti setelah diadakan penilaian pada Kompetensi Dasar Menulis Geguritan kelas IX C SMPN 4 Sragen tahun pelajaran 2021/2022 dengan hasil nilai rata-rata 81,7 dan semua siswa nilainya di atas KKM 75. MEL dapat memancing siswa untuk membangun kognitif, psikomotor dan afektif, membantu mengembangkan proses berpikir kreatif dan merasa bangga bisa menghasilkan karya dan mengekspresikan isi hati dan imajinasinya melalui pengalaman secara langsung/pembelajaran nyata. (*)