Penggunaan Bahan Alam untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Materi Teknik Cetak Timbul

Oleh: Muftahiyah, S.Pd
Guru SDN 01 Blendung, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

USIA siswa Sekolah Dasar (SD) merupakan usia senang bermain. Belajar sambil bermain merupakan proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa SD karena proses pembelajaran tersebut tidak monoton. Sehingga siswa tidak mudah jenuh pada saat pembelajaran. Pada usia kelas rendah, siswa SD masih senang sekali bergerak, sedangkan usia remaja dan dewasa dapat duduk berjam-jam untuk menerima pelajaran. Siswa SD lebih mudah memahami hal-hal yang bersifat konkret daripada yang bersifat abstrak. Untuk itu, guru SD dituntut melaksanakan kegiatan pendidikan yang serius tapi santai dengan media yang nyata dan memungkinkan siswa berpindah atau bergerak serta melibatkan siswa secara langsung.

Selamat Idulfitri 2024

Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) di SD diberikan karena mata pelajaran tersebut memiliki keunikan dan kebermaknaan dalam perkembangan siswa. Keunikan dan kebermaknaan tersebut memberikan hasil yang baik pada bidang akademik maupun non akademik. Tujuan pembelajaran seni budaya di sekolah adalah mengembangkan kreativitas, menampilkan sikap apresiatif, dan memahami konsep-konsep yang ada pada pembelajaran tersebut. Kreativitas siswa dapat berkembang dengan pesat melalui peranan dari lingkungannya. Perlu adanya latihan melalui rasa ingin tahu, kepekaan, dan berani berinovasi.

Masa anak-anak merupakan masa emas untuk belajar dan berlatih kreativitas guna mengembangkan syaraf motorik halus mereka yang sangat berperan dalam menentukan kecakapan anak. Salah satu cara dalam mengembangkan kecakapan anak yaitu mengajak mereka membuat aneka keterampilan, dengan kegiatan mencetak dengan menggunakan bahan alam sekaligus mengenalkan mereka dengan alam. Ada banyak bahan alam yang dapat mereka gunakan untuk cetak timbul seperti daun-daunan, pelepah pisang, buah-buahan, umbi-umbian, dan lain-lain.

Siswa SD dapat membuat hasil karya yang menarik serta bereksperimen menggunakan bahan alam tersebut. Dengan demikian, selain menjadi terampil dan kreatif, siswa akan belajar untuk menghargai alam dan kelak mampu menjaga kelestariannya. Siswa dapat bermain-main dengan memanfaatkan bahan-bahan alam yang ada di sekitar lingkungan mereka. Suasana yang menarik dengan nuansa bermain akan membuat siswa merasa senang, sehingga siswa dapat menemukan kreativitas dari hal tersebut menuangkannya secara optimal.

Mencetak atau seni grafis dalam pembelajaran seni menurut Sumanto adalah kegiatan berkarya seni rupa dua dimensi yang dimaksud untuk menghasilkan atau memperbanyak karya seni dengan menggunakan bantuan alat/acuan cetak tertentu. Sudjana menyatakan bahwa bahan alam yaitu bahan yang diperoleh dari alam yang dapat digunakan untuk membuat suatu produk atau karya.

Salah satu pendekatan yang dilakukan pada anak untuk merangsang dan mengembangkan kreativitas anak adalah dengan kegiatan mencetak. Sederhananya, mencetak merupakan suatu kegiatan untuk menghasilkan sebuah karya seni dengan menggunakan alat atau acuan tertentu. Dalam hal ini, kegiatan mencetak bagi anak usia dini menggunakan alat/acuannya bisa di dapat dengan memanfaatkan sesuatu yang ada dialam sekitar kita yang di sebut dengan bahan alam.

Manfaat dari proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kreativitas siswa khususnya materi cetak timbul. Bagi guru yaitu: (1) Sebagai bahan pertimbangan guru untuk menentukan bahan dan media pembelajaran yang lebih menarik dan kreatif; (2) Sebagai referensi bagi guru dalam meningkatkan kreativitas siswa, pada saat mengajarkan materi teknik cetak timbul; dan (3) Sebagai alat evaluasi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru.

Sedangkan manfaat bagi siswa antara lain: (1) Meningkatkan kreativitas siswa dalam seni rupa; (2) Meningkatkan minat dan semangat siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, khususnya mata pelajaran SBK; dan (3) Memberikan siswa kesempatan dalam mengembangkan kreativitasnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan kreativitas awal siswa saat pembelajaran tersebut, yaitu siswa menggambar bunga sesuai dengan contoh yang digambarkan guru. Padahal bunga itu ada bermacam-macam jenisnya. Rata-rata siswa mencontoh menggambar sesuai dengan contoh yang digambarkan oleh guru di papan. Begitu pula dengan pewarnaannya, siswa mewarnai bunga sesuai dengan contoh yang digambarkan oleh guru, padahal bunga memiliki warna yang bermacam-macam. (*)