Dongkrak Motivasi Belajar Bahasa Jawa dengan KAPAS

Oleh: Drs. Suhardi
Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Sukodono, Kabupaten Sragen

DALAM kegiatan pembelajaran sering kali terjadi verbalisme, guru menyampaikan materi pelajaran hanya memberi penjelasan dan penuturan secara lisan (metode ceramah), sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat minim. Pembelajaran konvensional di kelas dengan tingginya peran guru (teacher centered learning) serta guru kurang memahami penerapan model pembelajaran mengakibatkan siswa tidak termotivasi. Banyak siswa yang asyik sendiri, tidak memperhatikan guru, melamun, jenuh, malas, bahkan bersikap apatis terhadap guru. Hal inilah yang menunjukkan motivasi belajar siswa rendah dan pembelajaran dinilai kurang berkesan bagi siswa.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru bahasa Jawa kelas VIII B SMP N 1 Sukodono, Kabupaten Sragen menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan KAPAS, yang merupakan akronim dari KArtu berPASangan (Couple Card). Dengan harapan, dapat membangkitkan dan memotivasi siswa dengan senang hati untuk berpikir konkret, kritis, dan kreatif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

KAPAS merupakan alat bantu yang berfungsi untuk menjelaskan sebagian dari keseluruhan program pembelajaran yang sulit dijelaskan secara verbal (Rusvita Nazmi: 2019). Model ini sangat cocok untuk siswa yang kondisi kelasnya hiperaktif (suka ribut sendiri) yang menyukai permainan untuk memotivasi belajar, karena di samping merasa tertantang untuk menang, juga merasa bangga jika mampu memahami materi.

Menurut Suyatno (2009), KAPAS merupakan bagian model pembelajaran kooperatif di mana guru menyiapkan kartu yang berisi soal atau permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban kemudian siswa mencari pasangan kartunya. Model pembelajaran ini menuntut keterlibatan siswa secara aktif menanamkan kemampuan sosial atau bekerja sama secara dinamis berinteraksi dan berpikir cepat melalui permainan mencari pasangannya.

Adapun sintaks pembelajaran dengan model KAPAS adalah: 1). Persiapan. Guru menyiapkan kartu-kartu yang berisi beberapa konsep yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Guru memberi penjelasan materi atau tugas kepada siswa selama waktu 5 – 10 menit untuk membaca materi pelajaran; 2). Pelaksanaan. Setiap perwakilan dari kelompok dipersilahkan untuk mengambil 1 amplop yang berisi kartu pertanyaan. Guru menyebarkan kartu jawaban di depan kelas . Selanjutnya setiap kelompok menunjuk 1 temannya menjadi orang pertama untuk mencari kartu jawaban. Kemudian dipilih siapa yang menjadi orang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Orang pertama membuka amplop dan mengambil 1 kartu pertanyaan kemudian mencari kartu jawaban yang cocok dengan pertanyaan tersebut. Setelah mendapat kartu jawaban, orang pertama kembali ke kelompoknya kemudian dilanjutkan ke orang kedua. Begitu seterusnya sampai kartu pertanyaan yang ada di dalam amplop habis. Siswa diminta menulis kartu pertanyaan dan kartu jawaban pada lembar yang disediakan guru selanjutnya membahasnya bersama-sama. Kelompok yang dapat mencocokkan pasangan kartunya paling banyak sebelum batas waktu diberi hadiah, namun bila tidak mendapatkan hukuman yang telah disepakati. Sehingga pembelajaran terjadi secara kompetitif; 3). Penutup. Guru dan siswa merefleksi dan memberi tanggapan tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan untuk membuat kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran.

Berdasarkan pengalaman di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan KAPAS sebagai model pembelajaran berbasis kooperatif dapat mendongkrak motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Jawa. Terbukti setelah diadakan penilaian pada Kompetensi Dasar Menceritakan Kembali Cerita Legenda kelas VIII B SMPN 1 Sukodono tahun pelajaran 2021/2022, semua siswa mengikutinya dengan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 70. Dalam pembelajaran, siswa dapat bekerja sama dengan aktif, dinamis, dan tumbuh suasana yang menyenangkan dan berkembangnya aktivitas belajar dari segi kognitif dan motorik, sehingga prestasi belajar siswa juga lebih meningkat. (*)