Pati  

Warga Keluhkan Jalan Rusak Lewat LaporBup

Kasi Peningkatan Jalan DPU TR Pati, Hasto Utumo. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menerima banyak aduan setelah meluncurkan kanal Lapor Bupati (LaporBup), beberapa hari lalu. Salah satu keluhan terbanyak adalah tentang kerusakan jalan.

Berdasarkan catatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU TR) Pati, setidaknya ada lima titik kerusakan jalan yang dikeluhkan sejak LaporBup diluncurkan. Di antaranya jalan Pakis-Gunungwungkal, Margoyoso-Kali Kranji, Ngawen-Jrahi, Sukolilo-Prawoto, dan Dukuhseti batas Jepara.

Kasi Peningkatan Jalan DPU TR Pati, Hasto Utumo mengungkapkan, sementara ini sudah ada lima titik kerusakan jalan yang diadukan oleh warga. Baik kerusakan ringan hingga berat.

“Keseluruhan ada lima titik dan sudah kita tindaklanjuti. Cuma, yang kita lakukan saat ini hanya berupa pemeliharaan atau penambalan jalan,” ujarnya, Jumat (9/9).

Dia mengatakan, kerusakan terparah berada di jalan Sukolilo-Prawoto dan Dukuhseti batas Jepara. Hal itu dikarenakan, kedua ruas jalan tersebut dilalui kendaraan berat dengan muatan melebihi tonase.

“Dukuhseti batas Jepara dilewati kendaraan tambang, padahal peruntukannya bukan untuk kendaraan berat. Kemudian Sukolilo-Prawoto juga sama, kendaraan yang mengambil kapur di galian C itu juga over tonase,” terangnya.

Oleh karena itu, ia mensinyalir rapuhnya aspal karena kendaraan berat yang melintas, termasuk di jalan Margoyoso-Kali Kranji. Sedangkan kerusakan jalan Ngawen-Jrahi, warga meminta kerusakan diperbaiki dan dibuatkan jalan alternatif menuju tempat wisata.

“Jalan Margoyoso-Kali Kranji rusaknya standar. Kita sudah usulkan di 2022, cuma spesifikasi aspal Latasir yang nilainya hanya Rp 200 juta. Sedangkan yang melintasi juga kendaraan berat. Kalau warga (Jrahi) ingin ada jalan alternatif menuju tempat wisata. Dan kami jawab akan diusulkan di 2023,” paparnya.

Saat disinggung lambatnya perbaikan jalan, dirinya meminta masyarakat harus bisa bersabar. Pasalnya, perbaikan perlu menyelesaikan sejumlah tahapan.

“Untuk penanganan yang sifatnya darurat bisa cepat, dengan catatan sudah ada aspalnya. Soalnya, ada proses pengadaan aspal. Kami harus merencanakan, survei, menghitung baru masuk ke lelang baru penanganan,” tandasnya. (lut/abd)