Pati  

Nelayan Menjerit Harga BBM Melambung

BERANGKAT: Salah satu kapal nelayan di Juwana tampak sedang bersiap melaut meski harga BBM naik, belum lama ini. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berimbas terhadap ekonomi masyarakat. Termasuk para nelayan. Pasalnya, para nelayan kesulitan melaut lantaran tak mampu membeli bakar bahan kapal.

Ketua Barisan Muda Nelayan Juwana Mukit mengungkapkan, para nelayan sangat terdampak dengan adanya kenaikan BBM. Karena, biaya operasional melaut jadi bertambah.

“Kenaikan harga BBM ini sangat berat, BBM salah satu faktor cost perbekalan untuk melaut tinggi. Harga BBM melonjak yang tahun sebelumnya di bawah Rp10 ribu, sekarang naik lagi,” keluhnya.

Dia menjelaskan, hasil tangkap ikan para nelayan tidak sebanding dengan biaya melaut. Tak hanya bahan bakar kapal yang naik, turunnya harga ikan juga menambah kesulitan nelayan.

“Kenaikan BBM tidak dibarengi dengan kenaikan harga ikan. Tapi harga ikan justru makin kesini semakin menurun. Hasil ikan tangkap seperti Ikan Kembung, Layang dan Tongkol harganya turun,” ungkapnya.

Meskipun harga bahan bakar kapal tinggi, para nelayan tetap akan melaut demi mencari nafkah. Dengan alasan tidak ada cara lain sekalipun keuntung tidak seberapa.

“Pekerjaan nelayan ini sudah dari dulu, mau tidak mau memberangkatkan kapal. Kita tetap memberangkatkan kapal, percobaan sebab naiknya BBM baru kali ini entah nanti hasilnya seperti apa,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Disdagperin Pati, Hadi Santoso mengatakan, konsumsi bio solar di wilayahnya terbilang tinggi. Konsumsi bio solar yang tinggi ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan kapal para nelayan. Sehingga, penggunaan bahan bakar tersebut terbilang boros.

Pihaknya mencatat, penggunaan solar sampai Juli telah mencapai 66 persen. Dimana, pemakaian bio solar sudah sebanyak 50.536 ton. Sedangkan stok dari pertamina sejumlah 77 ribu ton.

“Seperti solar 77 kilo liter sampai bulan Oktober sudah habis koutanya kalau tidak ada pengendalian. Karena dari dulu sudah ada subsidi memang ada kuota, rata-rata setiap bulan 7 ribu ton pemakaian,” ucapnya. (lut/fat)