Oleh: Anis Taflihiyah, S.S., M.Pd.
Guru Bahasa Jawa SMAN 3 Klaten, Kabupaten Klaten
SISTEM zonasi yang sudah diterapkan beberapa tahun terakhir memberikan dampak positif terhadap tingkat kehadiran/kedisiplinan siswa. Hal itu terlihat dari hampir tidak ada siswa yang terlambat, jarak tempuh rumah ke sekolah lebih terjangkau, dari sisi penghematan bahan bakar minyak (BBM) juga didapat. Namun di balik itu semua, ada sisi lain yang perlu di perhatikan, yakni tingkat ketimpangan daya serap siswa menerima pelajaran terjadi kesenjangan yang dalam. Siswa A misalnya, dia luar biasa cepat menguasai materi, namun tidak untuk siswa B, sangat jauh dari kata paham. Penguasaan menulis aksara Jawa pada siswa kelas X tentang menulis aksara Jawa pun bervariasi, berbeda-beda tingkatannya.
Materi menulis aksara Jawa bagi sebagian siswa adalah materi mudah, namun tidak berlaku untuk sebagian yang lain. HG Tarigan (1992 : 21) berpendapat, menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut, kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Pada dasarnya, menulis sama dengan berbicara, karena materi bahasa yang digunakan sama, yaitu kata dan kalimat. Bedanya, kalau ditulis diperlukan pengetahuan tentang ejaan dan tanda baca. Dengan demikian, menulis itu tidak lain dari upaya memindahkan bahasa lisan ke dalam wujud tulisan, dengan menggunakan lambang-lambang grafem namun sering kali pula menulis itu dianggap sebagai suatu keterampilan berbahasa yang sulit, utamanya menulis dengan menggunakan aksara Jawa.
Demi pencapaian kemampuan menulis yang sama atau setara, maka Layanan Klinis mata pelajaran sangat diperlukan. Layanan klinis yang dimaksud di sini adalah kegiatan pengajaran guru terhadap siswa di luar kegiatan belajar mengajar (KBM) dan pelajaran tambahan. Layanan tersebut bisa diadakan jika siswa merasa perlu mendapat pengajaran lebih dalam, dan ini tidak ada unsur pemaksaan sama sekali.
Siswa yang belum mengerti/paham benar materi pelajaran menulis aksara Jawa yang diberikan di kelas bisa menemui gurunya untuk membuat janji bertemu. Layanan ini merupakan bagian dari pemenuhan hak siswa untuk menguasai materi, antara siswa dengan guru bisa membuat janji melalui telepon, pesan singkat, dan sebagainya. Karena layanan ini tidak bersifat wajib, maka hanya sebagian kecil siswa mau memanfaatkan ini. Biasanya siswa yang memiliki kesadaran tinggi saja yang memanfaatkan layanan ini. Layanan ini bisa dilakukan di mana saja selama masih dilingkungan sekolah tergantung kesepakatan, bisa di perpustakaan, di taman sekolah, di gazebo ataupun di sudut-sudut sekolah yang bisa digunakan untuk belajar.
Layanan Klinis untuk mata pelajaran Bahasa Jawa khususnya menulis aksara Jawa memberikan dampak positif terhadap meningkatnya kemampuan menulis pada siswa. Hal ini bisa diketahui dari hasil ulangan harian yang meningkat.
Siswa cenderung lebih aktif bertanya dan cepat respons di layanan ini daripada ketika pembelajaran biasa di kelas. Mereka yang berkemampuan kurang enggan bertanya, bahkan cenderung tertutup dan malu sama teman-teman sekelasnya. Dengan Layanan ini, mereka menjadi lebih terbuka dan kadang kala menjadi sarana ajang bercerita tentang permasalahan yang mereka hadapi, baik di sekolah maupun di rumah.
Hubungan kedekatan emosional antara siswa dengan guru menjadi lebih akrab dengan adanya layanan ini, karena guru juga bisa memberikan nasehat ataupun solusi terbaik tentang permasalahan yang mereka hadapi. Hasil ulangan yang diperoleh siswa setelah mengikuti layanan klinis lebih maksimal, karena siswa menjadi lebih mampu menguasai ketrampilan menulis aksara Jawa. (*)








