Ungkap Nilai-nilai Luhur dalam Legenda dengan Buzz Group

Oleh: Mulyono, S.S.
Guru Bahasa Jawa SMPN 2 Sukodono, Kabupaten Sragen

LEGENDA merupakan bagian dari folklor yang menyimpan sejumlah informasi sistem budaya seperti filosofi, nilai, norma dan perilaku masyarakat. Legenda mengandung nilai-nilai luhur yang mengajarkan kearifan lokal berupa piweling (pesan) dan piwulang (ajaran) dari nenek moyang yang dapat dijadikan sebagai ajaran maupun pedoman orang Jawa dalam menjalani hidupnya. Sayangnya, generasi muda masa kini banyak yang tidak paham makna yang terkandung di dalamnya. Akibat salah satu dampak dari globalisasi, nilai-nilai luhur tersebut tergerus pelan-pelan, berganti dengan nilai-nilai budaya asing yang sifatnya tidak sesuai dengan masyarakat Jawa.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru Bahasa Jawa kelas VIII B SMP Negeri 2 Sukodono, Sragen dalam pembelajaran pada Kompetensi Dasar (KD) Memahami isi Teks Cerita Legenda menerapkan metode Buzz Group, dengan harapan siswa mampu mengungkapkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam legenda. Adanya sopan santun, hormat, patuh kepada orang tua dan guru, sikap sabar narima (menerima dengan senang hati), ikhlas, hidup sederhana, dan welas asih (kasih sayang) merupakan nilai-nilai luhur yang harus dimilikinya serta dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Roestiyah (2001:9), metode pembelajaran Buzz Group adalah suatu kelompok besar yang dibagi menjadi dua sampai delapan kelompok yang lebih kecil, sehingga jika diperlukan kelompok kecil ini diminta untuk melaporkan hasil diskusi yang mereka lakukan kepada kelompok besar. Pembelajarannya yang dimulai dengan memberikan masalah atau pertanyaan, kemudian siswa menyelesaikan secara berkelompok dan berbagi informasi antara anggota kelompok.

Metode Buzz Group adalah suatu kelompok yang dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil (subgroups) masing-masing terdiri dari 3-6 siswa dalam tempo yang singkat untuk mendiskusikan suatu topik atau memecahkan suatu masalah. Kelompok yang kecil itu akan melaporkan hasil dari kelompok mereka kepada kelompok besar dan kemudian pada diskusi kelas (Surjadi: 1989). Tempat duduk diatur sedemikian rupa agar para siswa dapat bertukar pikiran dan bertatap muka dengan mudah.

Pembelajaran dengan metode Buzz Group melalui tahapan sebagai berikut : 1). Persiapan. Guru menyampaikan KD yang harus dikuasai siswa, memberikan apersepsi awal tentang nilai-nilai luhur orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya membentuk kelompok besar secara acak, tiap kelompok terdiri 5-6 siswa. Pemimpin kelompok dibantu guru untuk memecah kelompok besar menjadi kelompok kecil yang beranggotakan 2-3 siswa untuk berdiskusi menyelesaikan masalah; 2). Pelaksanaan. Guru memberikan tugas kelompok kecil untuk mendiskusikan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam cerita legenda dengan materi yang sudah disiapkan. Tiap kelompok mendapatkan permasalahan yang berbeda dengan materi pokok yang sama dan dituntut untuk didiskusikan dengan baik selama 15 menit. Selanjutnya pemimpin kelompok memanggil kelompok kecil untuk bergabung ke kelompok besar untuk menyampaikan hasil diskusi dan merangkumnya. Setelah itu hasil rangkuman dari kelompok besar dipresentasikan ke depan kelas, guru mempersilahkan kelompok lainnya untuk menambah, mengurangi atau mengomentari dari hasil presentasi tersebut. Guru membimbing dan mengamati sikap siswa dalam kerja kelompok; 3). Evaluasi dan Tindak Lanjut. Guru memberikan penegasan dan menyimpulkan materi pembelajaran dan memberi PR sebagai penguatan serta mengadakan penilaian baik secara individu maupun kelompok.

Implementasi metode Buzz Group dalam pembelajaran Memahami isi Teks Cerita Legenda berpengaruh positif. Siswa lebih berantusias asyik dapat mengungkapkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam legenda. Terbukti setelah diadakan penilaian pada KD tersebut, siswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Sukodono, Sragen tahun pelajaran 2021/2022 semua mengikutinya dengan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) 75. Siswa mampu menggali nilai-nilai luhur budaya Jawa dan memahami etika tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari serta berperan dalam pelestariannya. (*)