SEJAK kecil, Erwita Danu Gondohutami memang menyukai berbicara dengan setiap orang. Kegemarannya dalam berbicara dan bercerita, dioptimalkannya sehingga membawanya menjadi penyiar radio JIZ FM Jogja.
“Dari dulu aku tidak pernah menjadi anak yang pemalu, meskipun tetap grogi kalau harus tampil di panggung. Memang dari dulu aku suka ngomong, bahkan pas upacara bendera aku ngobrol sama temenku,” ujarnya seraya berkisah dan tertawa saat diwawancarai Joglo Jogja, Rabu (5/10).
Wanita yang akrab disapa Wita itu, mengatakan, bahwa dari situ ia mulai menjadi pembawa acara (Mc) petugas upacara dari SD hingga SMA. Gadis kelahiran Balikpapan ini pun mengaku tidak ada yang berubah secara personality-nya, meskipun impian sejak kecilnya telah terwujud menjadi penyiar di salah satu radio lokal di Yogyakarta.
“Mungkin lebih ke hati-hati saat menyampaikan sesuatu, karena kan channelnya ke publik. Sekarang harus berfikir dahulu ngomong sama siapa, konteksnya apa, dampaknya ke orang lain seperti apa,” terang wanita yang suka membaca buku ini.
Gadis berzodiak gemini ini pun mengaku bahagia saat menjadi penyiar. Ia merasa penyiar bukan hanya suatu pekerjaan saja, melainkan juga menambah pengalaman dan teman baru.
“Kadang rezeki yang aku dapat di dunia penyiaran tidak semata-mata soal materi. Tapi tentang hal lain, kesempatan, pengalaman dan juga dapat kenalan baru,” imbuhnya.
Anak sulung dari dua bersaudara ini pun membagikan tips, bagi yang ingin menjadi penyiar radio. Salah satunya sering-sering latihan, mengobrol dengan orang lain, dengan mencari tahu cara pandang manusia versi orang lain.
“Harus pro aktif, bisa cari training center yang memang ngajarin siaran atau belajar di radio sekolah, kampus. Jadi tidak harus masuk radio profesional dulu, karena aku menyadari, aku beruntung bisa langsung terjun radio profesional tanpa harus ikut radio komunitas. Kesempatan kaya gitu jarang,” paparnya.
Wita juga menyemangati bagi siapa pun yang ingin terjun di dunia penyiaran, dan harus memiliki passion di dalamnya. Sebab ia juga menjalani training selama enam bulan.
“Kemudian soal pendapatan, kalau murni siaran secara gaji juga tidak sama dengan orang kantoran. Passion itu paling utama, paling penting tingkatkan wawasan pengetahuan, suara nomer sekian,” tegasnya. (ers/all)










