Metode Persuasif Meningkatkan Ketrampilan Menulis Aksara Jawa

Oleh: Mustika Sari, S.Pd.
Guru Bahasa Jawa SMAN 2 Demak, Kabupaten Demak

MEMBACA dan menulis aksara Jawa adalah kegiatan menerjemahkan (mengalih aksara) tulisan beraksara Jawa menjadi tulisan latin atau sebaliknya mengalih aksara dari tulisan latin menjadi tulisan beraksara Jawa. Salah satu ketrampilan berbahasa yang harus dikuasai peserta didik dalam pelajaran bahasa Jawa adalah ketrampilan membaca dan menulis aksara Jawa.

Pembelajaran tentang aksara Jawa bukan hanya mengajarkan pemecahan masalah untuk keperluan membaca dan menulis, tetapi bagaimana mengenalkan dan menggunakan berbagai jenis aksara Jawa, sandangan, pasangan, aksara murda, aksara rekan, aksara swara, dan angka Jawa dengan penulisan yang benar. Berbagai macam aksara Jawa disertai tata aturan penulisan dan cara membacanya yang membuat peserta didik menjadi antipati, takut untuk mempelajari aksara Jawa.

Kegemaran peserta didik untuk belajar membaca dan menulis aksara Jawa sangat kecil bahkan kurang mendapat perhatian dalam pembelajaran di kelas, hal ini menjadi perhatian khusus dan menjadi tantangan yang tidak mudah bagi para guru bahasa Jawa. Agar pembelajaran membaca dan menulis aksara Jawa bisa menarik, maka guru harus menciptakan suasana belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, sehingga peserta didik termotivasi untuk secara aktif ikut berpartisipasi terlibat dalam proses pembelajaran aksara Jawa.

Salah satu cara untuk menarik minat peserta didik dengan menggunakan metode persuasif. Persuasif adalah sebuah cara mengajak atau imbauan yang dilakukan dengan sangat halus. Komunikasi persuasif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan setiap kegiatan kita setiap waktu, karena sudah barang pasti setiap aktivitas yang kita lakukan membutuhkan sebuah komunikasi.

Pengertian komunikasi itu sendiri sesuai pendapat Everret M. Rogers (Rohim, 2009) adalah proses peralihan suatu ide dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku mereka. Kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan. (Effendy, 2009). Penjelasan para ahli tentang definisi komunikasi persuasif tersebut sudah jelas bahwa komunikasi persuasif merupakan proses penyampaian pesan, ide, pikiran atau gagasan dari seorang komunikator kepada komunikan dengan tujuan untuk membujuk, mengajak, merayu, guna mempengaruhi keyakinan, pikiran, nilai, atau sikap komunikan.

Pendidik atau guru sebagai komunikator, harus bisa mengubah pola pikir yang keliru tentang materi aksara Jawa, yang awalnya menakutkan bagi sebagian siswa. Menjadi materi yang sangat menyenangkan. Langkah yang bisa dilakukan adalah: (1) secara personal guru mendata siswa yang belum menguasai materi aksara Jawa; (2) Guru sebagai komunikator, bertanya kesulitan atau kendala siswa dalam materi aksara Jawa; (3) Guru secara personal membimbing, memberikan informasi, ajakan, bujukan, secara halus sopan, untuk mengubah sikap/ perilaku peserta didik yang awalnya takut dengan materi aksara Jawa, menjadi paham bahwa pola pikir mereka salah; (4) Kemudian setelah peserta didik memahami, baru diberikan materi menulis aksara Jawa dari hal yang termudah secara bertahap, sampai peserta didik menguasai materi menulis aksara Jawa sesuai dengan kompetensi dasar yang harus mereka kuasai.

Penggunaan metode persuasif dalam menulis aksara Jawa memberikan rasa nyaman kepada peserta didik. Peserta didik merasa diperhatikan, sehingga muncul motivasi dan mengubah pola pikir bahwa belajar aksara Jawa itu mudah dan menyenangkan. Anggapan bahwa belajar aksara Jawa itu sulit akan terkikis, peserta didik akan lebih tertarik dalam belajar aksara Jawa. (*)