Mama Lena Dirikan Rumah Singgah bagi Penyandang ODHA

SUASANA: Keadaan Rumah Aira Tempat singgah bagi penyandang ODHA di Jalan Kaba Timur Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Semarang, Rabu (12/10). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Melihat stigma masyarakat kepada penyandang Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang sering diasingkan, membuat sebagian penyandang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi. Melihat fenomena ini, Maria Magdalena Endang Sri Lestari yang kerap disapa Mama Lena, mendirikan yayasan untuk menampung anak-anak dan perempuan penyandang ODHA. Yayasan yang ia dirikan ialah Rumah Aira.

Ditemui di yayasan Rumah Aira yang berlokasi di Jalan Kaba Timur, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Semarang, Mama Lena melalui Pengasuh Rumah Aira, Kamala Jamil (32) menjelaskan, yayasannya itu sudah dibangun sejak tahun 2015 silam. Sampai saat ini ada 50 anak asuh yang dibantu yayasan, untuk mendapatkan akses pengobatan dan vitamin secara gratis.

“Anak asuh Rumah Aira saat ini ada 50 lebih, tetapi yang tinggal di rumah singgah hanya 6 orang, selebihnya mereka datang satu bulan sekali untuk pengobatan dan mengambil vitamin. Kebanyakan anak asuh kita dari luar daerah, ada yang dari Jepara, Pati, Slawi, Klaten dan masih banyak lagi. Untuk yang tinggal di rumah singgah khusus yang dilantarkan orang tuanya ataupun orangtuanya sudah meninggal,” paparnya, Rabu (12/10).

Lebih lanjut, rata-rata anak asuh Rumah Aira anak-anak usia 3 sampai 13 tahun. Adapun perawatan yang diberikan Rumah Aira untuk para anak asuhnya adalah memberikan makanan yang bergizi, tidur siang, olahraga, dan mengkonsumsi buah, susu dan vitamin setiap harinya.

“Untuk anak asuh yang tinggal di rumah singgah, setiap hari anak-anak diberikan makanan yang bergizi, susu, vitamin, buah, dan wajib tidur siang,” ungkapnya.

Lalu untuk mendapatkan anak asuh, Mala mengaku sejauh ini para penyandang yang datang ke yayasan, bukan sebaliknya. Ketika disinggung terkait penularan HIV/AIDS, ia sebagai pengasuh mengaku tak khawatir pasalnya penyebaran hanya bisa lewat jarum suntik, berhubungan intim, dan donor darah.

“Anak asuh yang kita dapatkan sejauh ini mereka sendiri yang datang ke sini untuk meminta bantuan ke kita agar bisa mendapatkan pengobatan, karena kita juga sudah bekerjasama dengan beberapa rumah sakit di Semarang, jadi aksesnya lebih mudah. Untuk anak asuh luar kota, tiap bulan kita suruh datang ke yayasan untuk mengambil susu dan vitamin, sekaligus cek kesehatan,” ucapnya. (luk/gih)