Asyiknya Belajar Menulis Aksara Jawa dengan Make a Match

Oleh: Dra. Dwi Martini, M.Pd.
Guru Bahasa Jawa SMPN 4 Sragen, Kabupaten Sragen

DUNIA internasional melalui UNESCO tanggal 2 Oktober 2009 telah mengakui keberadaan aksara Jawa. Namun dalam realitas banyak masyarakat Jawa, apalagi generasi milenial yang bisa bicara bahasa Jawa, tetapi tidak bisa membaca maupun menulis aksara Jawa. Penggunaan aksara dalam kehidupan sehari-hari masih jauh dari harapan. Padahal menurut Nadiem Anwar Makarim (2021), pelestarian aksara Jawa harus dipandang sebagai langkah yang mutlak untuk menjaga keberlangsungan budaya Jawa. Hal itu disebabkan, melestarikan aksara Jawa berarti merawat budaya Jawa yang mendorong penciptaan aneka bentuk ekspresi yang akan semakin memperkaya kebudayaan bangsa Indonesia.

Selamat Idulfitri 2024

Siswa kelas IX F SMP N 4 Sragen dalam pembelajaran materi mengubah tulisan dari huruf latin ke huruf Jawa dijadikan momok yang menakutkan, karena aksara Jawa yang memiliki bentuk unik, terkadang terdapat aksara yang mirip dan tidak adanya pemisahan kata dengan spasi. Hal tersebut mengakibatkan hasil pekerjaan siswa terkait materi tersebut belum sesuai dengan harapan.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru Bahasa Jawa menerapkan pembelajaran kooperatif dengan metode Make a Match, dengan tujuan dapat membangkitkan kesadaran siswa untuk belajar membaca dan menulis aksara Jawa. Dengan demikian, tujuan pembelajaran diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Model pembelajaran Make a Match merupakan salah satu jenis dari model pembelajaran kooperatif, yakni bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen (Rusman, 2018: 223). Dalam pembelajarannya, guru mengajak siswa secepatnya mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan konsep melalui suatu permainan kartu pasangan. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban) lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang.

Menurut Wahab (2007) model pembelajaran make a match adalah sistem pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama kemampuan bekerja sama, kemampuan berinteraksi di samping kemampuan berpikir cepat melalui permainan mencari pasangan dengan dibantu kartu. Model Make a Match melatih siswa untuk memiliki sikap sosial yang baik dan melatih kemampuan siswa dalam bekerja sama di samping melatih kecepatan berpikir siswa.

Adapun sintaks pembelajaran dengan metode make a match adalah: 1) Persiapan. Guru menyampaikan KD yang harus dikuasai siswa dan memberi penjelasan mengenai metode yang akan digunakan pada proses pembelajaran. Guru membentuk kelompok, setiap kelompok beranggotakan 5 siswa dan menyiapkan beberapa kartu soal yang berkaitan dengan konsep yang dipelajari serta kartu jawaban berupa kartu Aksara Jawa; 2) Pelaksanaan. Setiap siswa dalam kelompoknya mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban, selanjutnya memikirkan dan mencari pasangannya sesuai dengan kartu yang dipegangnya. Pemegang kartu yang bertuliskan huruf latin dengan kartu yang bertuliskan huruf Jawa yang sesuai akan berpasangan. Siswa yang dapat mencocokkan pasangan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Namun bila tidak, akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati bersama, sehingga pembelajaran terjadi secara kompetitif. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya; 3) Evaluasi dan Tindak Lanjut. Guru bersama siswa merefleksi dari pembelajaran yang telah dilaksanakan. Selanjutnya guru menyimpulkan materi pembelajaran dan memberi PR sebagai penguatan serta mengadakan penilaian.

Implementasi metode pembelajaran Make a Match secara signifikan dapat mendongkrak motivasi belajar mengubah tulisan dari huruf latin ke huruf Jawa. Terbukti setelah diadakan penilaian pada materi tersebut siswa kelas IX F SMPN 4 Sragen, semua mengikutinya dengan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Siswa sebagai generasi milenial dengan asyik termotivasi secara aktif belajar menulis dan membaca aksara Jawa yang dapat digunakan dalam konteks komunikasi sosialnya. (*)