Optimalkan Kemampuan Berbahasa Jawa dengan Role Playing

Oleh: Drs. Suhardi
Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Sukodono, Kabupaten Sragen

BAHASA Jawa merupakan alat komunikasi orang Jawa bersosialisasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun tak jarang, orang Jawa lebih memilih bahasa Indonesia atau bahasa lainnya sebagai alat komunikasi, dengan dalih dampak globalisasi dan rumitnya aturan atau unggah-ungguh bahasa Jawa (ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama inggil). Kaum milenial Jawa cenderung bersikap apriori menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan dalam menggunakan bahasa krama, sehingga merasa cemas dalam memilih kata-kata yang tepat ketika percakapan berlangsung, terutama dengan orang yang lebih tua.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Henry Guntur Tarigan (1986), keterampilan berbicara akan dikuasai dengan baik kalau dilatih secara teratur dalam pengajaran berbicara yang terencana dan terarah. Keterampilan ini menuntut pelatihan dan praktik. Semakin sering berlatih akan semakin fasih dan terampil melaksanakan atau mempergunakannya.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru Bahasa Jawa kelas VII F SMP Negeri 1 Sukodono, Sragen dalam pembelajaran Kompetensi Dasar (KD) Menunjukkan perilaku berbahasa yang santun yang ditunjukkan dengan ketepatan penggunaan ragam bahasa (unggah-ungguh basa) menerapkan model pembelajaran Role Playing (Bermain Peran). Harapannya adalah siswa mampu berbicara yang dapat diterima dan benar secara gramatikal, mempunyai pengetahuan penggunaan kata-kata yang tepat sesuai dengan unggah-ungguh bahasa Jawa, serta dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Menurut Hamdayana (2014), Role Playing merupakan pembelajaran untuk menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas. Hal tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan dan kemudian memberikan saran/alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut.

Lewat Role Playing, emosional dan pengamatan indra pada suatu situasi masalah dihadapi secara nyata, sehingga siswa yang memerankan akan tertanam pengalamannya dan tahan lama dalam ingatannya. Siswa diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya, menumbuhkan kerja sama, kegiatannya menarik, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias dalam pembelajaran. Siswa diberikan kesempatan untuk menggambarkan atau mengekspresikan suatu tokoh yang diperankan dan mendapat tugas untuk mengamati tentang jalannya cerita serta dapat mendramatisasikan tingkah laku, atau ungkapan gerak-gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial atau manusia.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Adapun pembelajaran dengan metode Role Playing melalui tahapan sebagai berikut: 1) Pendahuluan. Guru menyampaikan KD yang harus dikuasai siswa dan membentuk kelompok belajar serta memberi penjelasan mengenai metode yang akan digunakan pada proses pembelajaran. Guru telah mempersiapkan sebuah cerita dialog menggunakan tingkat tutur bahasa Jawa yang akan dipertunjukkan di dalam kelas; 2) Pelaksanaan. Guru meminta beberapa siswa untuk memperagakan dan menghayati sebuah peran sesuai dengan skenario yang telah disiapkan. Siswa yang berada di dalam kelompok belajar diminta untuk mengamati tentang kinerja kelompok yang sedang memperagakan peran, selanjutnya diminta untuk mempresentasikan berdasarkan skenario yang telah dimainkan. Setelah selesai bermain peran, siswa melakukan kegiatan diskusi untuk menemukan ketepatan pemakaian kosa kata yang dipakai dalam skenario. Guru membimbing dan mengamati sikap siswa dalam kerja kelompok; 3) Penutup. Guru menyimpulkan materi pembelajaran dan memberi PR sebagai penguatan serta mengadakan penilaian baik secara individu maupun kelompok.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Implementasi metode Role Playing dalam pembelajaran berbahasa yang santun yang ditunjukkan dengan ketepatan penggunaan ragam bahasa (unggah-ungguh basa) berpengaruh signifikan. Siswa dapat optimal memahami pemakaian bahasa Jawa yang baik dan benar. Terbukti, setelah diadakan penilaian pada KD tersebut, siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Sukodono, Sragen semua mengikutinya dengan nilai di atas KKM. Siswa sebagai generasi muda turut berkontribusi dalam menjaga eksistensi bahasa Jawa dengan memiliki kemampuan berbahasa sesuai dengan kaidah yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. (*)