Penjelasan terkait Kematian 151 Orang dalam Tragedi Halloween di Itaewon Korea Selatan

EVAKUASI: Para korban tewas dalam tragedi Itaewon ketika perayaan pesta Halloween di Seoul, Korea Selatan pada Minggu dini hari, 30/10/22. (JOGLO JATENG/Twitter: @realsikaosk)

Terlebih, ketika orang-orang itu sudah terjatuh. Tubuh yang lemas membuat mereka kesulitan untuk bangun.

Crowd surge dan crowd crush terjadi di tempat-tempat di mana terlalu banyak orang berkerumun di satu tempat. Seperti di gerbang yang pintu masuk atau keluarnya terbatas dan jalan-jalan yang terlalu kecil,” jelasnya.

Cerita Kesaksian Korban Selamat

Salah satu pengunjung yang mengikuti pesta Halloween dan mengalami langsung tragedi Itaewon, Kim Seo Jeong (17) bercerita kepasa NY Times bahwa ketika peristiwa terjadi, ia terdorong oleh banyak massa. Bahkan, di sekelilingnya, orang-orang saling berdesakan hingga terjatuh.

“Ada orang-orang di bawah saya dan orang-orang jatuh di atas saya, dan saya hampir tak bisa bernapas. Kami berteriak minta tolong, tetapi musiknya sangat keras di gang itu. Teriakan kami tenggelam,” ungkapnya.

Terkait tragedi kematian akibat kerumunan dan kepanikan massa, Martyn Amos, profesor di Universitas Northumbria di Inggris menegaskan bahwa penting untuk memahami dan mengelola manajemen kerumunan.

Ia mengatakan, butuh perencanaan yang tepat dan orang-orang terlatih untuk mengelola “keramaian”.

Sejumlah barang tergeletak di lokasi di mana banyak orang tewas dan terluka karena terinjak-injak saat festival Halloween di Seoul, Korea Selatan pada Minggu, 30/10/22. (Antara/Joglo Jateng)