“Intinya, secara umum bahwa insiden ini akan terus terjadi selama kita tidak menerapkan proses manajemen kerumunan yang tepat dan mengantisipasi. Dibutuhkan juga ketepatan untuk mendeteksi dan mencegah kepadatan kerumunan yang sangat tinggi,” kata Amos kepada The Washington Post (kompas.com, 30/10).
Amos juga menuturkan bahwa gelombang kerumunan dipicu oleh banyak situasi yang ketat. Misalnya, ketika seseorang mendorong orang lain atau jika seseorang tersandung. Reaksi-reaksi tersebut biasanya ada setelah kerumunan mulai runtuh.
“Orang mati bukan karena panik. Mereka panik karena mereka sekarat. Jadi yang terjadi adalah, saat tubuh jatuh, saat orang-orang berjatuhan. Orang-orang berjuang untuk bangun dan Anda berakhir dengan lengan dan kaki terpelintir bersama-sama,” tuturnya. (mg2)










