JAKARTA, Joglo Jateng – Saat ini, perlu langkah strategis yang konsisten dan terukur untuk menurunkan angka prevalensi stunting atau kekerdilan. Lantaran, penurunan stunting diharapkan angkanya 14 persen pada 2024, di tengah potensi dampak krisis global di Tanah Air.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, catatan prevalensi kekerdilan di Indonesia memang memperlihatkan kecenderungan turun pada beberapa tahun terakhir. “Namun, potensi ancaman dampak sejumlah krisis global harus diantisipasi dengan langkah-langkah strategis. Agar, kebutuhan gizi keluarga tetap terpenuhi,” ujarnya Rabu (2/11/22).
Dia menilai, berbagai langkah strategis harus segera direalisasikan melalui pemanfaatan sejumlah sumber daya yang dimiliki setiap daerah dalam pemenuhan gizi seimbang bagi setiap keluarga. Selanjutnya, kesiapan setiap pemangku kepentingan di pusat dan daerah harus dipastikan agar strategi yang telah dirancang dapat berjalan sesuai rencana.
“Saya mendorong semua pihak. Kementerian, lembaga, serta masyarakat bahu membahu lewat kolaborasi yang baik untuk merealisasikan pemenuhan gizi seimbang bagi setiap keluarga,” tuturnya.
Bahkan, menurutnya, perlu sebuah gerakan yang masif untuk mengakselerasi pemenuhan gizi seimbang pada setiap anggota keluarga di Indonesia. Sehingga target prevalensi kekerdilan nasional tercapai.
Karena itu, lanjutnya, pencapaian prevalensi kekerdilan 14 persen pada 2024 bukanlah hal yang mudah. Karena, tanpa gerak bersama dari semua pihak, sulit untuk mewujudkannya.
Sebelumnya, ia memaparkan, hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menyebutkan, prevalensi kekerdilan balita Indonesia mencapai 24,4 persen pada 2021. Lalu, berdasarkan kategori prevalensi kekerdilan yang dibuat Badan Kesehatan Dunia (WHO), capaian Indonesia itu masuk kategori prevalensi kekerdilan menengah (20%-29%).
Sehingga, Rerie, sapaan akrabnya menyebut, pemerintah menargetkan penurunan angka prevalensi kekerdilan berlanjut hingga tercatat 14 persen pada 2024. Dengan kondisi, di tengah potensi ancaman dampak krisis global saat ini.(ara/ziz)










