Pandemi Covid-19 dan Kurikulum Merdeka

Oleh: Dra. Darsiti, M.Pd,
Guru SMP N 3 Pleret, Bantul, DIY

PANDEMI covid-19 memberikan dampak dalam dunia pendidikan. Di antaranya penurunan kualitas hasil belajar, motivasi dan semangat belajar, kesenjangan (learning gap), serta krisis pembelajaran. Antisipasi sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah, yakni dengan menerbitkan kurikulum darurat. Namun, kurikulum kondisi khusus tersebut belum memberikan hasil yang berarti, atau belum mampu mengatasi ketertinggalan dan kesenjangan pembelajaran. Hal ini karena pembelajaran yang dilaksanakan dari jarak jauh, sehingga dinilai kurang efektif.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk mengatasi ketertinggalan pembelajaran atau learning loss dan ketidakefektifan pembelajaran tersebut, pemerintah telah menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai upaya pemulihan pembelajaran. Kurikulum Merdeka ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2021 oleh sekolah-sekolah program Sekolah Penggerak (PS). Ada 2500 lebih sekolah penggerak yang sudah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

Kurikulum Merdeka atau sebelumnya disebut Kurikulum Prototipe, merupakan penyempurnaan terhadap kurikulum nasional sebelumnya, yakni Kurikulum 2013. Hasil Evaluasi terhadap kurikulum 2013 antara lain, beban belajar yang harus dipelajari siswa terlalu banyak (Puskurbuk, 2019). Kemudian, terdapat pemahaman yang keliru dari para guru tentang mastery learning (pembelajaran tuntas), diartikan sebagai menuntaskan seluruh materi pelajaran, bukan pemahaman siswa yang dituntaskan (Balibang, Kemdikbud, 2019). Selain itu, Kurikulum 2013 dianggap kurang memberikan fleksibilitas pada guru untuk menyesuaikan dengan kondisi pembelajaran pada dan pasca pandemi, terlalu syarat dengan konten atau materi.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dengan adanya hasil evaluasi tersebut, maka pemerintah memandang perlu adanya penyederhanaan dan penyempurnaan dengan kondisi dan kebutuhan terkini.  Menurut menteri, penggunaan kurikulum yang lebih fleksibel dengan menyempurnakan dan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan terkini, terbukti efektif dalam mendongkrak capaian pembelajaran  peserta didik (Paparan kemendikbudristek, 2021b).

Saat ini, sudah ada beberapa sekolah telah memulai melaksanakan Kurikulum Merdeka.  Meskipun sebenarnya pemerintah memberikan opsi kepada sekolah untuk melaksanakan kurikulum sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik, yakni kurikulum 2013, kurikulum darurat, dan kurikulum merdeka. Untuk pelaksanaan kurikulum merdeka, pemerintah juga memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk secara bertahap melaksanakan kurikulum merdeka, sesuai dengan kesiapan sekolah dan guru-gurunya. Akan tetapi sudah banyak sekolah yang melaksanakan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dikembangkan sebagai kurikulum yang lebih flesibel, berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dalam kurikulum merdeka, materi hanya yang esensial saja yang dipelajari, sehingga peserta didik memiliki cukup waktu nuntuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Adapun struktur kurikulum Merdeka terdiri dari pertama, program intrakurikuler. Yakni pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama dan budi pekerti, PPKn, bahasa Indonesia, matematika,  IPA, IPS, bahasa Inggris, PJOK, informatika, seni budaya dan muatan lokal.

Kedua, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), serta ketiga, ekstrakurikuler.  Yang berbeda dari kurikulum Merdeka adalah adanya P5 menjadi muara akhir pendidikan saat ini. Profil Pelajar Pancasila maskudnya profil pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan berkarakter, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Yakni dengan enam ciri utama beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong. Kemudian mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Panduan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pandemi covid 19 telah memberikan dampak terjadinya learning loss dan learning gap pada proses pendidikan. Oleh karena itu diperlukan solusi untuk mengatasinya, yakni dengan melakukan perubahan, penyesuaian   dan penyempurnaan terhadap kurikulum 2013 dan lahirlah Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka ini hadir sebagai solusi untuk mengatasi kesenjangan dan ketertinggalan pembelajaran seperti yang kita alami sebagai akibat pandemik covid-19 yang berkepanjangan. (*)