BERAWAL dari mengagumi kader-kader dan sosok pelatih yang inspiratif, Ratno Singgih mulai tertarik masuk pencak silat. Awal minatnya bergabung dengan pencak silat didorong juga karena rasa penasaran yang menyelimuti dirinya.
Pria yang saat ini tinggal di Pundong, Bantul itu mengaku, begitu masuk pertama kali di pencak silat, dirinya merasa kagum dengan kader-kader pencak silat dan ada figur pelatih yang sangat menginspirasi baginya. “Dari situ, saya akhirnya masuk pencak silat dan bertahan sampai saat ini,” kata Singgih.
Lebih lanjut, pria yang saat ini sedang melanjutkan kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu mengaku, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sudah menyukai pencak silat. Namun, dirinya baru bisa ikut dan bergabung saat masuk kelas 10 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Pertama kali, saya ikut ekstrakurikuler wajib disekolah yaitu Pencak Silat Tapak Suci,” tuturnya.
Selain sibuk kuliah PPG di UNY saat ini, Singgih juga ikut menjadi pengajar sekolah swasta di SMP Muhammadiyah Imogiri. Tak hanya itu, dirinya saat ini juga sibuk menjadi pelatih Organisasi Otonom (Ortom) Tapak Suci di Universitas Ahmad Dahlan (USD) Yogyakarta.
Meskipun memiliki berbagai kesibukan, pria Bantul ini sudah memiliki time management tersendiri. Sehingga, waktu yang ada bisa dimanfaatkannya dengan baik dan bermanfaat tentunya.
Dalam membagi waktu, Singgih memilih kegiatan yang paling penting terlebih dahulu dan menyelesaikan kegiatan yang bersifat urgent. Selain itu, dia juga lebih memprioritaskan mana yang harus segera diselesaikan. “Prinsip saya, ketika saya sudah memilih, saya harus bertanggung jawab dan harus menyelesaikan tanggung jawab itu,” tegasnya.
Sewaktu kuliah, prestasi-prestasi di bidang pencak silat tak luput ia dapatkan. Singgih mengaku prestasi tinggi ia dapatkan di tahun 2019. Ia berhasil tercatat sebagai juara satu Tapak Suci International Open Universitas Lampung, Juara pertama Tapak Suci The World Championship 2019, dan sebagai Juara satu Tapak Suci National Open Universitas Air Langga Surabaya.
“Sebenarnya di tahun-tahun berikutnya juga ada raihan. Namun saya lebih fokus untuk study,” jelasnya.
Singgih menambahkan, dalam kurun waktu pergantian tahun 2019-2022 sempat terkendala pandemi. Sehingga, event–event kejuaraan dunia persilatan sempat mati suri. “Dalam waktu-waktu ini, saya manfaatkan untuk lebih fokus mengerjakan tugas akhir kuliah,” ujarnya.
Dengan mengikuti pencak silat ia selalu berharap agar dapat menambah relasi, kekeluargaan, menyambung tradisi dan keilmuan kebudayaan Indonesia. Terlebih, menurutnya pencak silat ini, tidak hanya ajang dalam kekuatan dan keilmuan. Namun di dalamnya juga terdapat aspek spiritual, budaya, olahraga dan kesenian yang mendorong kehidupan umat manusia untuk menjadi lebih manusiawi. (cr5/abd)










