Belajar Lebih Mudah dengan Model Pembelajaran Mind Mapping

Oleh: Dewi Seftiyani, S.Pd., M.Pd.
Guru IPS SMP N 1 Demak

MIND mapping merupakan sebuah cara penerapan pembelajaran melalui pemetaan pikiran sebagai upaya memudahkan siswa didik kita dalam memahami materi pembelajaran. Penerapan metode ini didasarkan pada pengamatan sebelumnya. Dimana dalam setiap pembelajaran, anak nampak antusias manakala ada tulisan dan gambar yang menarik.

Selamat Idulfitri 2024

Mind mapping atau peta pikiran merupakan sebuah metode yang mempelajari konsep sebuah tema/masalah yang muncul. Metode ini ditemukan oleh seseorang yang bernama Tony Buzan. Dalam konsep ini, cara kerjanya berdasarkan cara kerja otak kita menerima informasi dari suatu bahasan mengenai masalah yang dijadikan sebagai sumber pencarian informasi tersebut.

Ternyata setelah mengaplikasikan pengetahuan kita kedalam sebuah tulisan-tulisan yang saling berhubungan, tulisan tersebut dapat memperlihatkan kinerja otak kita dalam menyimpan sebuah informasi terkumpul pada sel-sel saraf yang bentuknya berbercabang-cabang. Sekilas, sel-sel saraf tersebut terlihat menyerupai cabang pohon yang saling terhubung. Mind mapping adalah suatu peta berfikir terorganisasi yang terperinci, tepat dan mudah dicerna oleh fikiran sesuai dengan informasi yang kita inginkan (Tony Busan, 2008:4).

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Praktek dalam proses pembelajaran, untuk mencari potensi diri dari setiap siswa dapat menggunakan model pembelajaran mind mapping. Menurut DePorter (2010:175), model pembelajaran mampu membuat seorang siswa mengingat setiap detail kalimat dalam bacaan. Sehingga pemahaman siswa jadi meningkat. Kemudian mampu menghubungkan setiap materi, dan memberikan sudut pandang yang berbeda yaitu lewat mind mapping.

Untuk hasil belajar siswa, terdapat revisi taksonomi bloom oleh Anderson (2009: 198) yang menyatakan adanya perbedaan mendasar antara ranah lama dan baru. Dimana ranah kreatif pada taksonomi bloom revisi versi sebelumnya ranah kreatif diabaikan. Sedangkan yang sekarang ranah kreatif menjadi tujuan utamanya. Sehingga, kreativitas siswa harus ditonjolkan dalam proses pembelajaran.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Model pembelajaran mind mapping digunakan dalam kegiatan pembelajaran IPS materi Keberadaan Diri dan Keluarga Ditengah Lingkungan Sosial kelas VII-E sekolah menengah pertama. Yakni pada sub bahasan Menganalis Hubungan Antara Kondisi Geografis Daerah dengan Karakteristik Masyarakat dan Cara Mereka Beraktivitas.

Tujuan pembelajaran pada materi ini, siswa diarahkan untuk menggali informasi mengenai silsilah diri dan keluarganya. Yakni dengan membuat daftar pertanyaan untuk menggali informasi. Berikutnya mengolah data dan mulai merancang semua informasi tersebut kedalam bentuk mind mapping. Dimana data yang mereka kumpulkan harus detail dan seakurat mungkin disertai dengan gambar keluarga.

Hasilnya tentu saja telah memenuhi harapan dari perencanaan pembelajaran. Siswa mampu mengenal garis keturunannya dengan lebih baik dari penggalian informasi yang mereka lakukan. Nyatanya, banyak yang menceritakan jika mereka menjadi lebih dekat dengan orang tua, kakek nenek dan utamanya kerabat lainnya yang sebelumnya jarang mereka temui. Dengan tugas ini, setidaknya mereka berusaha mengontak dengan HP dan menggali informasi tentang mereka, yang akhirnya terjalin kembali kekerabatan yang lebih erat.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kelebihan yang lain dari metode mind mapping yaitu memudahkan siswa memahami materinya. Karena pengolahan data yang lebih spesifik memudahkan siswa untuk mengurutkan materi, karena memiliki tema yang jelas. Urutan kronologis peristiwanya juga jelas. Dengan kesuksesan mengurutkan kronologis peristiwanya, secara otomatis nilai yang didapat oleh kelompok pun menjadi sempurna.

Kelebihan dan keunggulan dari metode mind mapping yang disusun peneliti ini yaitu memunculkan kreativitas dan bakat siswa dalam seni menggambar. Jadi tidaklah salah jika peneliti menerapkan metode pembelajaran ini pada siswa didiknya dengan banyaknya manfaat dan hasil yang baik. Semoga pengalaman ini mampu memberikan sumbangsih baru bagi dunia pendidikan untuk terus berbenah menjadi baik dan lebih baik kedepannya. (*)