INTIP ketan merupakan jajanan khas Kudus. Namun kini, intip ketan jarang ditemui, meski namanya masih cukup populer. Di antara yang masih menjual jajanan tersebut adalah Suroso Ragil Saputra. Dalam pembuatannya, ia masih setia menggunakan alat masak dari cobek berbahan tanah liat.
Suroso menceritakan, ia memilih jualan intip ketan untuk ikut menguri-uri atau melestarikan jajanan jadul khas kudus ini. Ia mengaku mulai berjualan dengan menitipkan di toko-toko sejak 2012 silam. Dan mulai pada 2016, ia berjualan menggunakan gerobaknya.
“Dari 2012 sampai sekarang tetep konsisten jualan intip ketan. Kami biasa jualan di belakang SMP 2 Kudus di waktu sore,” ujarnya, Minggu (5/2/23).
Menurutnya, intip ketan masih populer meski penjualnya sudah jarang dan hampir punah. Intip ketan menjadi jajanan yang diminati para orang tua, dan kini anak muda mulai tahu dan berminat dengan jajanan jadul ini. Nyatanya, penjualan intip ketan Suroso tak pernah sepi pembeli dan selalu diminati masyarakat.
“Masih ada beberapa penjual intip ketan di Kudus, namun hanya saya yang masih pakai cobek tanah liat masaknya. Ya ini untuk menjaga kekhasannya dan lebih tradisional,” paparnya.
Dulunya, ia pernah berusaha menginovasikan jajanan jadul ini menjadi beraneka ragam rasa. Yang awalnya intip ketan hanya ada rasa manis dan asin, ia coba inovasikan menjadi rasa coklat, kacang, keju, dan pisang. Namun, inovasi tersebut malah kurang diminati, masyarakat lebih suka dengan rasa aslinya, yakni manis dan asin.
“Jadi kami kedepannya konsisten jualan intip ketan dengan rasa manis dan asin ini saja,” imbuhnya.
Intip ketan miliknya tak hanya diminati masyarakat Kudus saja, namun banyak masyarakat luar kota pun memesan pesananannya. Ia bercerita, dulu pernah dipanggil ke Jakarta untuk memenuhi pesanan di pernikahan artis. Setelah itu, banyak yang meminta intip ketan Suroso untuk datang ke pernikahan dan acara-acara penting lainnya.
“Dulu saya mau dipanggil ke jakarta untuk memenuhi prasmanan di pernikahan artis, saya dijemput. Setelah itu banyak tawaran untuk ngisi prasmanan, tapi saya tidak mau karena tidak dijemput, sudah tua repot kalau pergi sendiri,” ungkapnya. (mey/gih)










