Manfaatkan Selokan, Budidaya Ikan untuk Ketahan Pangan

SUASANA: Warga RW 5 Kelurahan Pendrikan Lor, Semarang tengah saat memberi makan ikan di keramba wilayah itu, Senin (6/3/23). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Warga RW 5 Kelurahan Pendrikan Lor, Semarang Tengah punya cara lain untuk menjaga ketahan pangan. Salah satunya dengan memanfaatkan selokan yang ada di wilayah tersebut.

Ada 2 keramba dengan masing-masing ukuran panjang 6 meter dan lebar 1 meter terbentang di aliran air di wilayah itu. Berisi beragam jenis ikan, di antaranya ikan lele, ikan nila, ikan mujaer dan ikan patin.

Ketua RW 5 Kelurahan Pendrikan Lor, Agus Muldiyanto mengatakan, inovasi memanfaatkan selokan menjadi keramba ikan ini sudah digagas sejak tiga tahun lalu sebelum dirinya menjabat sebagai ketua RW di wilayah tersebut. Sejak saat itu, hasil panennya pun terbilang banyak, mulai 10 hingga 20 kilogram dalam sekali panen.

“Keramba ini sudah sejak tiga tahun yang lalu, pertama hanya satu keramba, kemudian setelah kami jadi RW sejak November 2022 menjadi dua keramba dan rencanan akan ditambah tiga, empat keramba lagi,” katanya saat ditemui di lokasi keramba, Senin (6/3/23).

Agus menyebut, ikan yang ada di keramba tersebut tidak diperjualbelikan secara bebas. Hanya untuk kebutuhan bersama warga RW 5 saja.

“Kebetulan ikan ini dimanfaatkan untuk Jumat berkah jadi kita bagikan ke warga RW 5 dan sekitarnya, kemudian bila ada lebih kita jual ke warga juga dan hasil jualnya kembali ke bibit lagi. Jadi dari warga untuk warga,” paparnya.

Ketika ditanya terkait pernah tidaknya aliran air pada selokan meluap, Agus mengaku wilayahnya terbilang aman dari banjir. Sehingga ikan yang ada di selokan terbilang aman. Selain itu, ia mengatakan desain keramba yang seperti kapal tersebut sudah disesuaikan dengan muka air yang mengalir.

“Untuk kerambanya kita tutup dengan jaring, sehingga ikan tetap di dalam keramba. Kemudian di daerah sini untuk banjir tidak ada, sehingga muka air ini sesuai dengan yang diperkirakan, ikannya tetep aman,” ungkapnya.

Kemudian, lanjut Agus, pada musim kering, posisi keramba yang di tengah ini mengikuti bentuk sungainya. Dimana pada bagian tengah lebih dalam. “Jadi airnya itu tetap ada pada saat musim kering itu tadi. Kemudian kalau hujan pun airnya belum pernah meluap sama sekali,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ikan di panen setiap dua hingga tiga bulan sekali untuk jenis lele. Sementara untuk bibit ikan lainnya biasa dipanen tiga hingga empat bulan sekali.

“Untuk panen ikan lele kurang lebih dua sampai tiga bulan, karena kalau besar juga rasanya kurang jadi umur segitu sudah dipanen. Kemudian kalau bibit dari kecil ini sama tiga sampai bulan. Paling banyak dalam tiga tahun ini 15 kilogram untuk jenis semua ikan, kita paling banyak pada saat itu lele,” tutupnya.

Disisi lain, Lurah Pendrikan Lor, R Wisnu Effendy mengaku siap mendukung segala sesuatu bentuk inovasi yang dilakukan oleh warganya. Ia pun mengaku telah memetakan 6 RW yang ada di wilayahnya untuk memiliki inovasi masing-masing sesuai karakteristik warganya.

“Jadi untuk dukungan dari kelurahan itu secara matrial dan non matrial, secara garis besar masyarakat yang berinovasi di daerah kelurahan Pendirikan Lor, pasti saya akan hadir di situ untuk men-support apapun yang mereka butuhkan untuk kemajuan masing-masing di wilayah mereka. Jadi saya pastikan dan saya katakan masyarakat yang mau maju inovasi akan saya support ke wilayah itu,” tandasnya. (luk/gih)