Pembelajaran Team Assisted Individualization untuk Meningkatkan Pemahaman Aksara Jawa

Oleh: Yustin Rahayuning Asmarani, S.Pd.
Guru Bahasa Jawa SMP N 2 Gajah, Kab. Demak

BANGSA Indonesia adalah bangsa yang memiliki beraneka ragam budaya. Budaya tersebut meliputi bahasa, rumah adat, adat-istiadat, pakaian, senjata, dan kebudayaan lainnya. Salah satu budaya tersebut adalah aksara Jawa. Aksara Jawa ini menjadi bukti nyata  adanya zaman terdahulu sebelum adanya bangsa Indonesia. Banyak sekali naskah aksara Jawa yang selama ini belum tersentuh. Padahal, naskah-naskah tersebut berisi aneka ragam bidang ilmu, sejarah, filsafat, arsitektur, farmasi, hukum dan sebagainya (Ekawati dalam Mulyana 2008:248).

Upaya melestarikan aksara Jawa ini sedang diupayakan pemerintah. Salah satunya adalah dengan memasukkannya dalam kurikulum pendidikan. Sehingga bangsa Indonesia tidak kehilangan akan nilai budayanya (Rahman, 2007:1). Aksara Jawa termasuk ke dalam materi pelajaran bahasa Jawa yang kurang diminati, dikarenakan banyaknya aksara, sandhangan, dan pasangan yang harus dihafalkan peserta didik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 2 Gajah Tahun Pelajaran 2021/2022 yang kurang mencapai KKM pada pretest awal mengalih aksarakan aksara Jawa.

Berdasarkan hal tersebut, guru melaksanakan penelitian tindakan kelas menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan model pembelajaran team assisted individualization berbantuan media kertas berwarna. Penggunaan model pembelajaran tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mengalih aksarakan kalimat beraksara latin menjadi aksara Jawa, serta meningkatkan keaktifan peserta didik pada pembelajaran tersebut.

Pembelajaran diawali dengan guru membentuk kelompok secara heterogen. Guru membagikan kertas berwarna yang berisikan kalimat, untuk dialih aksarakan masing-masing peserta didik. Peserta didik berkelompok menurut warna kertas yang didapatkannya. Setelah itu, peserta didik mengalih aksarakan kalimat yang terdapat dalam kertas tersebut menjadi aksara Jawa. Pada kelompok diskusi tersebut, peserta didik yang pandai dapat memberikan masukan kepada peserta didik yang kurang pandai. Oleh karena itu, peserta didik yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan peserta didik yang kurang pandai dapat terbantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok.

Kelompok tersebut mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas untuk dapat diamati dan diberikan masukan oleh peserta didik pada kelompok lain. Masukan dari kelompok lain digunakan untuk bahan perbaikan bagi kelompok tersebut. Pada akhir pembelajaran, peserta didik diajak untuk merefleksi pembelajaran. Peserta didik dibantu dengan guru mengemukakan kesimpulan dari materi pembelajaran mengalih aksaraka aksara Jawa dengan model pembelajaran team assisted individualization berbantuan media kertas berwarna. Peserta didik juga diberi kesempatan untuk memberikan saran kepada guru mengenai pembelajaran yang sudah berlangsung, sehingga dapat dijadikan bahan evaluasi bagi pembelajaran selanjutnya.

Penggunaan model pembelajaran team assisted individualization berbantuan media kertas berwarna dalam pembelajaran mengalih aksarakan tulisan beraksara Jawa terbukti dapat meningkatkan kemampuan mengalih aksarakan kalimat menjadi aksara Jawa. Dilihat dari peningkatan nilai rata-rata kelas, serta dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran aksara Jawa. (*)