Aspek Kesehatan dalam Menjalankan Rukun Islam

Dr. Teddy W Nugroho. M.Kes

Oleh: Dr. Teddy W Nugroho. M.Kes
Pengurus RMI PCNU Kota Semarang,
Dosen FK-RSND Undip

RUKUN Islam tersusun dari dua suku kata. Yaitu rukun dan Islam. Secara makna, kata rukun merupakan kata yang sering digunakan oleh ulama untuk menyebut tiang sandaran atau tiang bangunan. Sedangkan secara terminologi, rukun Islam (bahasa Arab: arkān al-Islām) adalah lima hal dasar yang diajarkan dalam agama Islam.

Dalam kesehatan, terdapat dua aspek yaitu kesehatan jiwa dan kesehatan jasmani. Kesehatan jiwa sering disebut kesehatan mental. Merupakan kemampuan manusia dalam mengelola fungsi kejiwaannya dan penyesuaian manusia dengan lingkungan sekitar, berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadist. Kesehatan jiwa lebih menekankan pada adanya hubungan baik antara umat manusia dengan Allah dengan cara berserah diri dengan menjalankan perintah dan larangan-Nya. Aspek kesehatan jasmani atau kesehatan fisik diutamakan kondisi fisik yang sehat. Hal ini diperlukan agar ibadah dapat dilaksanakan secara sempurna.

Rukun Islam yang pertama yaitu membaca syahadat. Dalam hal ini, aspek kesehatan jiwa lebih diutamakan. Dimana ada keyakinan manusia terhadap adanya Allah SWT dan bersaksi bahwa Rasul Muhammad merupakan utusan Allah. Diperlukan pematangan dalam berfikir dan penerimaan manusia dengan adanya Allah. Sedangkan kehadiran Rasul perlu penerimaan yang dapat dibuktikan kehadirannya.

Rukun Islam yang kedua yaitu salat. Dalam hal pelaksanaannya, salat lebih diutamakan dalam aspek kesehatan jasmani. Meskipun dalam melaksanakan salat manusia harus melibatkan kesehatan jiwa agar menjadi khusyuk, yaitu berusaha mencurahkan pikiran dan hati manusia hanya kepada Allah SWT. Pelaksanaan saolat didahului dengan melakukan wudhu. Wudhu mengutamakan kebersihan jasmani dari segala macam kotoran dan mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan adanya kotoran yang menempel pada tubuh. Termasuk pula aspek kebersihan tempat.

Salat juga menjadi perhatian agar tidak terkena penyakit akibat lingkungan yang kotor. Kebersihan baju yang digunakan diperlukan, agar baju tidak tertempel kotoran yang menjadi sumber penyakit. Hal ini juga sesuai dengan pola hidup sehat dan bersih (PHBS).

Melaksanakan zakat merupakan rukun Islam yang ketiga. Aspek kesehatan jiwa lebih dominan, dan hampir tidak ada aspek kesehatan jasmani. Dalam melaksanakan zakat, dibutuhkan pemikiran yang baik untuk menyisihkan hartanya untuk berzakat. Harta yang sudah didapatkan dengan susah payah harus dikeluarkan lagi untuk berbagi dengan umat manusia sesuai dengan ketentuan dalam melaksanakan zakat. Berzakat dapat memberikan manfaat pada pikiran, sehingga menjadi lebih tenang dan bekerja lebih bersemangat.

Ibadah puasa merupakan rukun Islam yang keempat. Puasa merupakan penggabungan kedua aspek kesehatan yang dilakukan secara berimbang. Dari aspek kesehatan jasmani, didapatkan kondisi fisik lebih sehat. Manfaat berpuasa juga didapatkan. Terbukti dari hampir semua pemeriksaan laboratorium, tubuh manusia menjadi normal, metabolisme tubuh lebih teratur, fisik lebih segar, dan organ pencernaan memiliki keteraturan dalam bekerja. Aspek kesehatan jiwa juga ada dalam puasa. Dimana lebih ditekankan kepada pola berfikir positif mengurangi pembicaraan yang tidak berguna, mengurangi kegiatan yang tidak bermanfat, dan melatih manusia untuk berbuat jujur.

Rukun Islam yang terakhir yaitu melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji dilakukan bagi yang mampu. Karena lebih diutamakan dalam hal pembiayaan dan melakukan perjalanan ibadah. Ibadah ini menggabungkan dua aspek kesehatan jasmani dan rohani yang dilakukan secara seimbang. Dalam aspek kesehatan jasmani, kekuatan fisik dalam melaksanakan Ibadah sangat dibutuhkan. Karena kehadiran secara fisik dalam rangkaian ibadah sangat diperlukan.

Sedangkan keterkaitan dengan rohani adalah berserah diri, rendah hati, dan merasa bahwa manusia sama tidak ada yang lebih unggul atau lebih rendah dihadapan Allah. Wallahu a’lam bisshowab. Semoga bermanfaat. (*)