Mengenang Ita Martadinata, Korban Pemerkosaan Tragedi 98

Sembahyang penghormatan Sinci Ita
BERDOA: Sembahyang penghormatan Sinci Ita (warna putih) di Altar Gendung Rasa Dharma, Minggu (21/5/23). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dalam upaya memberi penghormatan atas keberanian seorang remaja putri pada tragedi 1998 lalu, perkumpulan Boen Hian Tong meletakkan papan arwah (Sinci) berwarna putih milik Ita Martadinata di altar gedung Rasa Dharma. Ita Martadinata adalah adalah korban pemerkosaan dalam tragedi kelam tersebut.

Humas Boen Hian Tong, Asrida Ulinuha mengatakan Sinci Ita Martadinata sudah ada di Altar Boen Hian Tong sejak 2021 silam. Ia mengisahkan, Ita adalah seorang remaja putri yang berani angkat bicara pada masa itu tentang tragedi tragis tersebut.

Ita merupakan perempuan Tionghoa berusia 17 tahun yang menjadi korban pemerkosaan pada tragedi 1998 lalu. Ia dibunuh pada 9 Oktober 1998 tepat sebelum memberikan kesaksian dihadapan forum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di New York, AS.

“Dia bukan artis, bukan tokoh dan bukan siapa-siapa, dia hanya anak remaja yang menjadi korban pada 1998 dan dia hendak bersaksi di PBB itu saja,” ucapnya, Minggu (21/5/23).

Sinci milik Ita menjadi satu-satunya papan arwah berwarna putih di altar tersebut. Di kalangan Tionghoa, warna putih melambangkan duka. Papan putih itu mengingatkan Ita yang dibunuh dengan kejam oleh orang tak diketahui.

“Dia orang yang berani bertahan terhadap keadaan, karena dia meninggal dunia beberapa hari sebelum dia bersaksi di PBB. Ita hanya satu yang di situ, tapi sesungguhnya korbannya lebih dari itu. Maka penghormatan itu layak diberikan kepada korban yang jatuh di tahun 1998,” lanjut Ulin.

Ulin meyakini, bila kala itu Ita berhasil memberi kesaksian di PBB maka hal tersebut akan berdampak besar bagi keadilan para korban tragedi Mei 1998. Pasalnya dahulu tidak ada korban yang berani speak up untuk memberi kesaksian karena mendapat tekanan dan ancaman dari banyak pihak.

“Dia menjadi salah satu korban yang berani speak up, dan berani itu mahal harganya. Meskipun dia meninggal sebelum berbicara itu dianggap keberanian yang besar,” ujar Ulin.

Ulin menceritakan hasil riset dan cerita pengalaman Ita Nadia mendampingi korban tragedi Mei 98. Saat itu Ita mendapat telepon dari sejumlah korban penjarahan di Jakarta. Salah satunya dari pihak Ita Martadinata.

“Dia merupakan perempuan Tionghoa yang mengalami kekerasan seksual, intimidasi, dan itu dialami banyak orang lainnya. Ada yang meninggal di tempat ada yang dibunuh beberapa hari kemudian, ada yang depresi lalu gila. Cerita-cerita itu memang ada sebenarnya,” ungkap Ulin.

Meski sebagian warga Tionghoa yang tidak mengenal Ita di masa lalu, Ulin berharap keberadaan sinci Ita dengan papan putih satu-satunya di Rasa Darma dapat mengenalkan dan mengenang keberanian Ita pada saat tragedi Mei 98.

Diceritakan, Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim yang mengusulkan peletakkan sinci Ita. Menurutnya dengan keberadaan papan arwah milik Ita cukup mewakili korban lainnya dan mengingatkan peristiwa kelam itu.

Perkumpulan itu juga memperingati para koban dengan mengadakan kegiatan rujak pare sambal kecombrang setiap bulan Mei sejak 2018 lalu. Kali ini digelar di Gedung Dharma, Minggu (21/5/23).

SUASANA: Proses uleg sambal kecombrang dalam peringatan tragedi 1998 di Gedung Dharma, Minggu (21/5/23).

“Rujak pare itu filosofinya dari rasa pahitnya dari pengalaman buruk, rasa pahitnya peristiwa. Pahitnya pare ketemu sambal kecombrang yang mewakili dari korban-korban perempuan, karena bunga ya, kembang itu diulek, dihancurkan jadi dibikin sambal, sudah hancur sehancurnya ditambah dengan peristiwa seperti itu,” beber Ulin.

Menurutnya, kegiatan itu sebagai bentuk rekonsiliasi dalam bentuk filoosofis untuk melepaskan rasa pahit dan luka tragedi Mei 1998 di masa lalu. “Di Semarang memang tidak mengalami penjarahan, tapi saat itu ketegangan sampai di sini. Orang-orang Tionghoa tidak berani keluar rumah, pergi ke sekolah, jalanan sepi, toko-toko tutup, takut saat pulang kerja, dan seterusnya,” ungkapnya.

Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim mengatakan peringatan tragedi 98 ini tidak boleh berhenti pada langkah seremonial saja, tapi juga berlanjut dengan tindakan kontekstual yang bisa membantu orang-orang di sekitar. Pihaknya pun telah menggelar kegiatan tersebut sejak 2018 lalu.

“Kita mendorong keberanian untuk bersuara bagi prnyintas kekerasan dengan menciptakan forumbernama Estungkara. Kita buka forum seperti tadi para korban atau yang mengalami  kekerasan suruh bercerita aja dengan sesama korban, dan mungkin dari satu, dua dari kami juga bisa menjadi fasilitator yang mungkin dosen psikolog, atau dari filsafat untuk membantu memfasilitasi saja,” tuturnya.

Pihaknya mengaku tidak bisa mencarikan jalan keluar, proses itu kembali kepada masing-masing korban. Meski begitu, ia meyakini forum untuk bersuara dan saling mendengar itu sangat dibutuhkan sekali.

Turut hadir sejumlah penyintas dalam forum tersebut untuk berbagi pengalaman kelam dengan para anggota dan peserta yang hadir. Perwakilan Gerakan Pria Peduli Perempuan dan Anak (Garpu Perak) Jateng dan LRC KJHAM juga turut mengapresiasi kegiatan itu dan siap untuk mengulurkan tangan bagi korban. (luk/gih)