DUNIA pewayangan tak lepas dari adanya seorang dalang, yang kebanyakan dilakukan oleh seorang laki-laki. Bukan tanpa alasan, hal itu disebabkan karena salah satu aspek penting yang harus dimiliki seorang dalang adalah kemantapan suaranya.
Jumlah perempuan yang tekun mempelajari pedalangan terbilang sedikit. Anisyah Padmanila Sari menjadi salah satu di antaranya. Kecintaan terhadap seni budaya membuat ia menggeluti dunia wayang.
Kecintaan itu berawal dari rekomendasi tantenya untuk kuliah di jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dara kelahiran Solo dan besar di Sleman itu menceritakan, pada 2013 dirinya belum mempunyai pengalaman sama sekali saat masuk kuliah di jurusan pedalagan.
“Aku belum pernah nonton wayang. Aku belum ada bayangan sama sekali waktu itu,” terangnya, Minggu (18/6).
Sejak pertama masuk jurusan pedalangan, Anisyah -sapaan akrabnya- baru mengatahui jika si mbah putrinya seorang dalang. “Jadi dulu itu aku tidak begitu mengerti asal-usul dan passion di keluarga besar bapakku. Dan ternyata dulu simbah putriku itu dalang dan bapaknya atau simbah buyut aku itu juga seorang dalang,” tuturnya.
Sejak kecil sampai duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), Anisyah mengaku tidak pernah menonton pertunjukan wayang, tak tahu soal pewayangan, maupun gamelan. Sedangkan sejak kecil ia hanya tau seni tradisi jatilan.
Akhirnya semenjak masuk kuliah Anisyah benar-benar belajar dari nol. Saat itu rasa bingung masih menyelimuti pikirannya. Seiring berjalannya waktu, lingkungan yang positif dari teman, kakak tingkat, dan dosen pun membantunya. Akhirnya dia mulai bisa mengikuti.
“Jadi aku sering diberi ruang untuk ikut mereka perform. Di semester satu pernah diajak latihan sekali dan lanjut pentas. Padahal awalnya aku mikir hanya nonton. Ternyata naik panggung,” ungkapnya.
Sejak saat itu Anisyah mulai belajar soal pedalangan. Ditambah lagi proses perkuliahannya yang menurutnya juga sangat asing soal pedalangan. Tapi itulah yang membuatnya terus belajar dan mencari tahu.
“Dulu waktu kuliah banyak temanku yang dari SMKI (jurusan, Red.) pedalangan dan semua cowok. Jadi aku harus mengejar sampai aku bisa,” kata dia.
Baginya, kesulitan di dunia pedalangan itu terletak di teknis pertunjukannya. Sebab menurutnya semua dalang rata-rata itu kaum adam dan kebanyakan lakon wayang itu kebanyakan bercerita soal kepahlawanan yang bergenre laki-laki.
“Karena lakonya laki-laki kebanyakan tokohnya laki-laki. Secara teknis pertunjukan aku harus bisa nih mengenal tokohnya, harus bisa mengerti karakter suaranya. Sebab suara laki-laki dan perempuan itu kodratnya berbeda dan aku harus menyesuaikan di situ,” teranganya.
Ia mengungkapkan, tidak sedikit orang mempertanyakan keahlian dan mencibir dalang perempuan. Terlebih, dalang perempuan kurang mempunyai wadah untuk berekspresi. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi Anisyah untuk terus berkembang. Ia mengaku terus haus ingin belajar wayang setiap harinya.
Selain menjadi seorang perempuan yang mendalami pedalangan, Anisyah ternyata juga menjadi Duta Museum di Museum Wayang Kekayon Jogjakarta. Berawal dari undangan untuk menjadi narasumber sebagai seorang perempuan yang mendalami pedalangan di hari perempuan nasional.
“Di sana kan museum soal wayang juga makanya aku dipanggil ke sana untuk mengisi acara hingga akhirnya aku mendaftar dan diterima di sana,” ungkapnya.
Saat ini, Anisyah mengaku masih berkegiatan bermain wayang kecil-kecilan (kontemporer) dari bahan kardus atau botol bekas. Kegiatan itu bertujuan untuk memperkenalkan wayang ke anak-anak kecil atau masyarakat.
Baginya, wayang atau pedalangan itu sampai saat ini masih menjadi bagian dari hidupnya tanpa ia sadari. Sebab pedalangan atau wayang baginya adalah hal yang bisa ia pelajari dalam waktu yang sangat pendek.
“Dari pewayanagan atau pedalangan banyak pelajaran hidup yang bisa kita pelajari. Dan tanpa sadar aku enjoy dan pedalangan itu sudah mendarah daging,” pungkasnya. (cr5/mg4)










