WISATA lereng Gunung Merapi Kaliurang Kabupaten Sleman kini memiliki area kuliner baru bernama Omah Jadah.
Terletak tepat di kawasan wisata Tlogo Putri, Kaliurang, wisata itu menjadi rumah produksi sekaligus wisata edukasi yang digadang mampu meningkatkan kemandirian dan daya saing jajanan jadah tempe.
Jadah merupakan kudapan olahan dari ketan khas Kaliurang Sleman yang biasanya disantap bersama tempe ataupun tahu bacem sehingga disebut jadah tempe.
Dibungkus daun pisang, jadah yang memiliki rasa gurih dipadu tempe atau tahu bacem yang rasanya manis plus cabai rawit, membuat kudapan ini jadi buruan wisatawan di tengah hawa dingin Kaliurang.
Ketua Sentra Jadah Tempe Kaliurang, Bejo Wiryanto menjelaskan, saat ini anggota Sentra Jadah Tempe yang ada di Kaliurang ini bejumlah 80 orang. Dari jumlah tersebut didominasi perempuan dan lansia.
Omah Jadah Kaliurang diharapkan mampu menarik minat para generasi muda, sehingga makanan khas Kaliurang ini dapat lestari.
Di Omah Jadah Kaliurang juga terdapat pengolahan jadah tempe dengan metode tradisional dan modern.
Selain produk jadah tempe konvensional, ada juga produk olahan sushi jadah tempe dan jadah tempe frozen.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih menambahkan, anggota Sentra Jadah Tempe yang ada di Kaliurang ini sebelumnya telah mendapatkan berbagai pelatihan.

Di antaranya pelatihan cara produksi, inovasi produk olahan jadah tempe dan turuanannya, manajemen pemasaran, hingga strategi mendatangkan konsumen.
“Kalau belum beli jadah tempe, belum ke Kaliurang. Nah, bagaimana ini nanti kita kolaborasi dengan berbagai pihak,” terangnya.
Saat meresmikan Omah jadah pada Minggu (25/6/2023) lalu, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan, jadah tempe merupakan kuliner khas Kaliurang yang perlu terus dikembangkan dan dioptimalkan.
Adanya kudapan khas itu diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke wilayah Sleman, serta membawa pengaruh positif bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
“Maka transformasi dari pelaku usaha jadah tempe yang senior kepada generasi penerus yang lebih junior harus terus dilakukan serta ditingkatkan kualitas produksi dan pemasarannya,” terangnya.
Menurut bupati, program mengembangan jadah tempe sebagai magnet pariwisata di Sleman memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Baik dari Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman, perhotelan, sampai lembaga pendidikan.
Selain itu, strategi dan metode pemasaran juga perlu menyesuaikan dengan tren yang terus berkembang.
“Kalau kita pengin maju, memang zamannya sudah beda, yaitu dengan teknologi. Begitu juga pembayarannya tidak perlu dengan cash, tapi bisa dengan QRIS atau aplikasi lainnya,” pungkas bupati. (bam/mg4)










