Tahun Ajaran Baru, Inflasi di Sleman Merangkak Naik

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Mae Rusmi
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Mae Rusmi. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Jelang tahun ajaran baru, tingkat inflasi di Kabupaten Sleman merangkak naik. Kenaikan itu muncul dari sektor makanan dan transportasi. Selain itu, saat ini sejumlah komoditas pangan juga terpantau naik dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Mae Rusmi menerangkan, di setiap tahun ajaran baru angka inflasi di Sleman cenderung mengalami kenaikan. Sehingga dapat dikatakan kenaikan dari sektor makanan dan transportasi disumbang dari para mahasiswa baru.

“Fenomena ini di sumbang dari libur tahun ajaran baru serta mahasiswa yang baru datang ke Sleman. Kedatangan mereka akan menimbulkan peningkatan daya beli di sektor pangan juga penggunaan jasa di lini transportasi,” katanya, belum lama ini.

Menurutnya, setiap datangnya tahun ajaran baru inflasi di Sleman mengalami kenaikan. Namun, secara detail Mae belum bisa menyebutkan angka pastinya. Hanya saja kenaikan inflasi relatif tinggi.

“Memang masih relatif tinggi karena sumbangan dari transportasi, terutama liburan, Kemudian ada beberapa komoditas pangan naik harganya,” tuturnya.

Mae membeberkan, pada sektor komoditas pangan, saat ini harga ayam tengah melonjak. Dari semula kisaran Rp 36 ribu per kilogram kini mencapai Rp 38 ribu per kilogram.

Naiknya harga daging ayam disebabkan oleh stagnasi bibit. Sedangkan faktor lainnya disebabkan karena naiknya permintaan daging untuk hajatan dan liburan.

Sementara di komoditas telur ayam, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman sudah berusaha mencukupi kebutuhannya. Salah satunya dengan kerja sama dengan daerah Blitar.

“Selama beberapa bulan terakhir Sleman mendapat gelontoran telur ayam dari Blitar 10-15 ton per bulannya. Kemarin waktu tinggi-tingginya kita datangkan 15 ton. Kalau biasanya 10 ton,” paparnya.

Mae menuturkan, adanya kenaikan harga sejumlah komoditas pangan membuat masyarakat menerapkan dua hal. Yakni mengurangi jumlah takaran pembelian dam mengganti komoditas pangan yang harganya naik dengan komoditas alternatif lainnya.

“Tentu saja dari masyarakat akan menyesuaikan. Seperti biasanya beli telurnya sekilo kemarin saya lihat ya setengah kilo. Kemudian untuk daging mereka ngecer, biasanya satu kilo mereka ada yang kemudian beralih ke ikan lele. Sama-sama protein hewani,” terangnya.

Dikatakan, kenaikan harga daging membuat sejumlah warga beralih ke komoditas ikan seperti lele dan nila yang kini ramai peminatnya. Kedua ikan tersebut menjadi konsumsi yang cukup bagus untuk menggantikan ayam.

“Akhir-akhir ini saya lihat ikan lele di pasar penjualannya cukup bagus. Banyak peminatnya,” pungkasnya. (bam/mg4)