Disperindag Sleman Sukses Kurangi Sampah Harian Pasar

DITUTUP: Seorang warga saat melintasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Pasar Condongcatur yang ditutup dan diberi peringatan dilarang membuang sampah, beberapa waktu lalu. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman mengklaim berhasil mengurangi produksi sampah dari pasar-pasar tradisional di wilayahnya. Hal itu seiring dengan program pemilahan dan pengolahan sampah yang dilakukan masyarakat.

Kepala Disperindag Mae Rusmi Suryaningsih menuturkan, pihaknya telah melakukan sosialisasi di seluruh pasar tradisional yang ada di Sleman. Termasuk mengeluarkan surat edaran untuk pengurangan timbunan sampah yang ditujukan kepada seluruh pedagang.

“Kami sudah sosialisasi untuk seluruh pasar, mengeluarkan surat edaran untuk pengurangan timbunan sampah pada seluruh pedagang, terutama memilah sampah anorganik dan organik,” kata Mae di Sleman, Senin (4/9).

Tak hanya melakukan pemilahan secara mandiri oleh masing-masing pedagang. Pihaknya juga bekerja sama dengan berbagai pihak untuk pengolahannya.

Baca juga:  Bantul Siap Hadapi Kemarau, Ribuan Pompa Air Diterjunkan untuk Bantu Petani

“Sekarang yang kita buang ke TPST ini yang betul-betul sudah residu. Kalau yang sayur mayur kalau memang ada yang membutuhkan untuk pakan ternak, kita persilakan mereka untuk membawa pulang untuk dikasih ke ternak,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah mengaktifkan dua pengolahan sampah organik yang bertempat di Pasar Sleman. Hasil pengolahan itu dibuat kompos dan selanjutnya digunakan untuk memupuk tanaman yang ada. “Jadi kita sudah empat kali penyaringan pemilahan, kemudian sisanya dibuang,” akunya.

Mae juga menyebut, produksi sampah pasar harian di Sleman berkisar antara 30-35 ton per hari. Setelah dilakukan pemilahan dan pengolahan kemudian turun menjadi 20an ton per hari.

“Produksi sampah perhari sekitar 30-35 ton, tapi terakhir setelah kita pilah sudah berkurang. Bisa berkurang sampah enam ton lebih, ya bisa menjadi 20an ton per hari rata-rata, dikarenakan tiap hari beda-beda,” tuturnya.

Baca juga:  Pastikan Kendaraan Laik, Dishub Kota Yogyakarta Gelar Operasi

Sebelumnya, secara terpisah, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengungkapkan, gerakan pilah sampah dari rumah tangga sudah banyak dilakukan masyarakat. Hal itu dilihat dari volume sampah harian di Bumi Sembada yang sudah berkurang hampir 50 ton.

“Mulai akhir Juni kemarin volume sampah harian kita turun dari 300-an ton per hari menjadi 254 ton per hari dan saya yakin sekarang lebih turun lagi. Ini berarti sudah banyak yang melakukannya (pilah sampah, Red) dan mulai efektif,” terangnya.

Gerakan pilah sampah dari rumah tangga sendiri mulai kembali gencar disosialisasikan sejak adanya wacana penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan bergulir pasa sejak Februari lalu. Salah satunya dengan menerbitkan Surat Edaran (SE) Bupati Sleman.

Baca juga:  DP3AP2 DIY Imbau Masyarakat Laporkan Kekerasan Anak dan Perempuan

Selain itu, gerakan pilah sampah ini juga disosialisasikan hingga tingkat bawah. Tujuannya untuk mengajak masyarakat untuk peduli dan menekan produksi sampah.

Kustini menuturkan, pihaknya juga tak lantas berdiam diri selama penutupan TPST Piyungan. Pemkab Sleman sendiri diketahui sudah membuat tempat penitipan sampah sementara (TPSS) di Tamanmartani.

“Edukasi terus kita lakukan salah satunya dengan mengurangi sampah. Setelah itu kita tekankan agar sampah itu dipilah agar lebih mudah diolah. Sehingga sampah yang tidak bisa diolah yang dibawa ke tempat penampungan sementara itu bisa berkurang cukup banyak,” tutupnya. (bam/all)