Oleh: Margi Istiana, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Karangreja, Kab. Purbalingga
PROSES pendidikan di sekolah merupakan sebuah sistem yang meliputi banyak hal. Siswa berlaku sebagai subjek belajar. Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran, materi pelajaran, dan faktor pendukung lainnya.
Agar dapat melaksanakan pembelajaran, guru dituntut menguasai pegangan pokok pembelajaran dan dasar-dasar teori belajar, dapat mengembangkan sistem pembelajaran. Di samping itu mampu melakukan kegiatan pembelajaran yang efektif, dan mampu melakukan penilaian hasil belajar.
Menurut Winkel (2006), hasil belajar atau prestasi adalah suatu aktivitas mental yang langsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Berhasil atau tidaknya siswa belajar, sebagian besar terletak pada usaha dan kegiatan sendiri, di samping faktor kemauan, minat, ketekunan, tekad untuk sukses, dan cita-cita tinggi untuk mendukung setiap usaha dan kegiatannya.
Siswa akan berhasil kalau berusaha semaksimal mungkin dengan cara belajar yang efesien. Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam upaya mengoptimalkan proses belajar. Antara lain keadaan jasmani, sosial emosional, lingkungan, memulai pelajaran, membagi pekerjaan, kontrol. Berikutnya sikap yang optimis, menggunakan waktu, cara mempelajari buku, dan mempertinggi kecepatan membaca siswa.
Menurut Eysenck (dalam Slameto, 2013), motivasi adalah suatu proses yang menentukan kegiatan, intensitas, konsisten, serta arah umum dari tingkah laku manusia, sebagai konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep lain. Seperti minat, konsep diri, dan sikap.
Motivasi merupakan suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan atau kedaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya. Yakni untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Selanjutnya dikatakan Wahyudi (2017), ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Yaitu pada permulaan belajar mengajar terlebih dahulu guru menjelaskan tujuan pembelajaran ke siswa. Sehingga siswa dapat memahami tujuan instruksional khusus yang akan dicapai.
Selain itu, guru harus dapat membangkitkan dorongan atau motivasi kepada siswa agar lebih giat dalam belajar. Untuk mempermudah dalam menyampaiakan pembelajaran, guru dapat menggunakan media pembelajaran yang baik sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Dalam kegitan pembelajaran, guru harus membentuk suatu kebiasaan belajar siswa dengan baik seperti mengelompokkan siswa menjadi beberapa kelompok. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah model pembelajaran yang bersifat universal atau semua mempelajarinya. Inilah yang menunjukkan bahwa pembelajaran adalah kontekstual. Seseorang mempelajari sesuatu karena mereka memiliki kesempatan untuk menerapkan pembelajaran ini untuk kehidupan sehari-harinya.
Penerapan pembelajaran kontektual di kelas melibatkan tujuh utama pembelajaran efektif, yaitu sebagai berikut. 1) Konstruktivisme, mengembangkan pemikiran siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, serta mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2). Bertanya, yaitu mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 3) Menemukan, yaitu melakukan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik. 4) Masyarakat belajar, yaitu menciptakan masyarakat yang belajar (belajar kelompok).
5) Pemodelan, yaitu menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6) Refleksi, yaitu melakukan refleksi sebagai akhir pembelajaran dan merupakan ringkasan dari pembelajaran yang telah disampaikan guru. 7) Penilaian sebenarnya (authentic assessment), yaitu melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. Tugas guru hanyalah menilai sejauh mana keberhasilan pembelajaran.
Berdasarkan hasil penerapan pendekatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa CTL dapat meningkatkan kompetensi memahami pelajaran. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata pada prestasi dan perubahan perilaku peserta didik setelah melaksanakan pembelajaran mengalami perubahan ke arah positif. Ketuntasan belajar dapat dimaksimalkan dengan mengefektifkan CTL dalam pembelajaran. (*)








