BANTUL, Joglo Jogja – Dunia olahraga sangat unik apabila di kulik secara mendalam. Seperti kisah salah satu atlet lari berasal dari Yogyakarta, Rahma Annisa ini.
Dara berparas cantik ini telah memulai karir cabang olahraga (Cabor) lari dari ketidaksengajaan. Berawal dari menyukai atletik pada usia tujuh tahun, dan mulai berpartisipasi mengikuti perlombaan lompat tinggi.
Dirinya pernah mencoba mengikuti lari sprint dan lompat. Namun, perjalanan seriusnya dalam atletik dimulai pada saat mulai berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
“Dulu awalnya saya minatnya bermain basket dan berencana untuk bergabung dengan UKM basket di kampus. Karena UKM Basket sedang libur saat itu, akhirnya memutuskan bergabung tim atletik. Kemudian, kini saya menjadi atlet spesialisasi dalam nomor lari 400 meter flat dan 400 meter gawang,” paparnya.
Di usianya yang masih 24 tahun, ia telah mencapai sejumlah prestasi dalam karir atletiknya, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Saya meraih medali perak dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021 di Papua dan medali perunggu di ajang ASEAN University Games (AUG) 2022,” jelasnya.
Menurutnya, PON 2021 menjadi debutnya dalam kompetisi multievent dan Rahma berhasil meraih medali perak dalam nomor lari 400 meter putri. Meski awalnya merasa gugup, lantaran karirnya baru dimulai saat menempuh kuliah.
“Saya juga mendapatkan medali perunggu dalam nomor 400 meter lari gawang putri Pada AUG 2022 di Thailand. Selain itu, mencatat prestasi gemilang dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) DIJ 2022, meraih dua medali emas dalam nomor 200 meter dan 400 meter,” ujarnya.
Selain itu, di 2023 Rahma menjadi Juara I Jatim Open 400 meter gawang, Juara 3 Jateng Open 800 meter, serta Juara 3 Kejurnas 400 meter gawang. Sehingga, ia memiliki ambisi untuk menjadi bagian dari tim atletik SEA Games 2023. Namun, hasil seleksi nasional belum mencapai target.
Gadis ini mengaku terinspirasi oleh pelatihnya, Ivan Budi Aji yang selalu mendukung dan membimbingnya. Sedangkan, juga memiliki role model dalam dunia atletik, seperti Sydney McLaughlin dari Amerika Serikat dan Femke Bol dari Belanda.
“Saya sempat mengalami tantangan. Pada satu kesempatan terdiskualifikasi dalam nomor 400 meter lari gawang putri karena mencuri start. Pengalaman itu menjadi pembelajaran penting bagi saya, sehingga kedepannya berusaha lebih tenang sebelum berlomba,” pungkasnya.(cr11/sam)










