Permainan Puzzle Tingkatkan Semangat Menulis dan Bercerita Anak

Oleh: Siti Munariyah, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia MTs N 5 Demak

MENULIS adalah suatu proses kegiatan pikiran manusia yang hendak mengungkapkan isi jiwanya kepada orang lain atau kepada diri sendiri dalam bentuk tulisan. Keterampilan menulis dan bercerita berfungsi untuk menyampaikan informasi.

Menjadi seorang guru adalah profesi yang sangat mulia dan terhormat dalam kehidupan bermasyarakat. Guru memiliki fungsi untuk memfasilitasi siswa. Salah satu kegagalan guru selama ini dalam mengajar adalah berdasarkan pada modul ajar saja.

Menjadi seorang guru pada di era milenial adalah sebuah tantangan besar. Kecanggihan pada teknologi yang bisa diakses oleh siapa saja. Oleh karena itu, dalam pembelajaran, guru bisa memilih metode yang disesuaikan.

Pemilihan metode dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan materi agar siswa tidak merasa bosan. Pembelajaran yang menyenangkan akan dapat menumbuhkan kreativitas dan efektif siswa dalam pembelajaran. Seperti dengan bermain puzzle untuk mengasah kecerdasan intelektual IQ anak-anak, sekaligus bisa dinikmati. Ini yang disebut dengan belajar sambil bermain. Bermain puzzle dapat membantu memecahkan masalah dalam menceritakan rangkaian gambar.

Sebelumnya, ketika pembelajaran tentang materi cerita naratif guru bercerita terlebih dahulu secara urut. Selanjutnya guru memberikan tugas kepada siswa untuk bercerita sesuai buku di modul. Karena banyak siswa yang malu untuk berdiri di depan apalagi untuk bercerita cerita naratif.

Oleh karena itu guru berinisiatif menggunakan media permainan agar siswa merasa senang dan tidak menimbulkan kejenuhan atau kebosanan. Metode bermain dengan metode pembelajaran dengan menggunakan potongan-potongan gambar yang disusun kembali menjadi gambar yang utuh.

Setelah potongan-potongan gambar itu utuh, kemudian peserta didik menulis cerita berdasarkan gambar tersebut. Itu akan memudahkan siswa untuk bercerita dengan urutan yang tepat dan jelas. Banyak manfaat yang didapat dalam bermain puzzle. Salah satunya mendorong anak untuk berpikir secara kritis sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Dalam permainan puzzle ini terdapat kekurangan. Pertama, permainan puzzle membutuhkan waktu lebih banyak. Kedua, tantangan kreativitas bagi peserta didik. Ketiga, pelajaran kurang terkendali, dan keempat media puzzle lebih menekankan pada indera penglihatan saja.

Sedangkan kelebihan permainan puzzle itu sendiri adalah pertama, melatih konsentrasi, ketelitian, dan kesabaran. Kedua, melatih koordinasi tangan dan mata. Ketiga, memperkuat daya ingat, dan keempat mengenalkan anak pada konsep hubungan.

Langkah-langkah dalam pembelajaran guru menggunakan metode permainan puzzle adalah pertama guru membentuk kelompok terdiri dari empat sampai lima orang. Kedua, kelompok yang sudah terbentuk berkumpul sesuai kelompok yang sudah jadi.

Ketiga, guru mempersipkan potongan-potongan cerita diletakkan di meja guru. Guru menulis cerita kancil dengan memberikan nomor 1. Keempat, kelompok 1 sampai kelompok 7 mengambil potongan kertas sesuai apa yang tertera di nomor kertas.

Kelima, setelah mengumpulkan potongan-potongan kertas, setiap kelompok berkumpul dan bekerja sama sesuai kelompoknya untuk merangkai gambar yang sudah diambil menjadi cerita yang padu. Keenam, setiap kelompok menuliskan cerita secara urut dan runtut.

Ketujuh, setelah selesai menulis cerita, selanjutnya kelompok tersebut maju bercerita (boleh perwakilan atau maju bersama saat bercerita bergantian) di depan kelas apa yang sudah ditulis sesuai ceritanya. Kedelapan, setelah kelompok sudah maju hasilnya di tempelkan di dinding. Kesembilan, setelah hasilnya ditempelkan, kelompok yang lain berkunjung dari kelompok yang lain dan memberikan penilaian tiap-tiap kelompok yang dikunjungi.

Dari metode yang penulis terapkan pada pembelajaran dengan metode permainan puzzle terjadi perubahan peningkatan motivasi belajar yang lebih tinggi. Bisa dilihat dari antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran dan suasana kelas yang menjadi lebih kondusif. (*)