Figur  

Sosok Ibu Hebat, Lakoni Berbagai Peran

Shanti Rosalia, Istri Bupati Pemalang.
Shanti Rosalia, Istri Bupati Pemalang. (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Menjadi seorang ibu sekaligus istri seorang bupati bukanlah yang mudah. Harus bisa tanggap memerankan berbagai peran untuk mendukung suami serta mendidik anak-anak. Hal itu dirasakan oleh Shanti Rosalia, sosok istri Bupati Pemalang Mansur Hidayat, yang setia mendampingi suami sejak berprofesi sebagai karyawan perusahaan, hingga kini menjabat Bupati Pemalang periode 2021-2024.

Umi, sapaan akrab dari buah hatinya itu menceritakan, pada awal pencalonan suaminya menjadi seorang wakil bupati di 2021 lalu, dirinya sedikit ragu. Dia harus merelakan sang suami mundur dari posisi di perusahaan yang sudah cukup mapan dan maju ke Pemilu Bupati (Pilbup) Pemalang. Dengan diyakinkan suami, akhirnya dia merestui hingga terpilih dan menjadi Bupati Pemalang sampai sekarang.

“Jujur saya dulu sempat ragu, tapi mau bagaimana lagi, sebagai istri saya ikut dan mendukung penuh dengan keputusan suami. Akhirnya dari kota kelahiran saya di Pekanbaru, saya pindah ke Pemalang untuk mendukung suami membangun tanah kelahirannya,” ujarnya.

Meskipun kini menjadi istri seorang bupati dan menjabat sebagai Ketua TP-PKK serta Bunda PAUD Pemalang, dirinya tetap tidak lupa kodratnya yang merupakan seorang wanita. Shanti selalu menyempatkan diri untuk mengurus segala kebutuhan suami dan anak-anaknya dari awal pagi hingga malam hari.

Contohnya seperti memasak untuk anak-anak dan suami, menemani belajar anak, hingga jalan-jalan bersama anak-anak tanpa membawa ajudan selayaknya masyarakat biasa. “Jadi istri itu harus multi-talenta. Harus bisa jadi menteri pendidikan, keuangan, sosial, budaya, bahkan chef atau koki ahli memasak untuk keluarga. Karena kita jadi salah satu pilar terpenting untuk membangun bangsa dan negara,” tuturnya.

Hal yang selalu ia tekankan kepada anak-anaknya adalah sikap sopan, santun, akhlak dan perilaku yang baik kepada siapa pun dan di mana pun. Bahkan dirinya tak segan membiarkan guru atau ustazah tempat belajar anak untuk memberikan hukuman, ketika anak-anaknya nakal atau berbuat salah. Ini menjadi pembelajaran bahwa mereka harus hidup selayaknya padi yang semakin berisi semakin merunduk.

“Anak tetap harus sopan kepada siapa pun, karena itu saya sudah sekolahkan mereka di sekolah Islam terpadu untuk memupuk nilai agama. Kalau di pergaulan, mereka tidak boleh menunjukkan kalau mereka anak bupati. Harus menghargai teman sebaya, dan tidak menjadikan jabatan ayah dan umi untuk di sombongkan, mereka harus bermanfaat untuk lingkungan,” imbuhnya.

Terakhir, dirinya memberikan pesan kepada setiap ibu di Kabupaten Pemalang harus selalu mendampingi suami, anak dan bermanfaat bagi lingkungan. Contohnya seperti membuang sampah pada tempatnya serta memilah sebelum dibuang, dengan kebiasaan itu akan menular kepada lingkungan yang akhirnya berdampak besar untuk masyarakat umum. (fan/abd)