BANTUL, Joglo Jogja – Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tengah mengajukan akreditasi internasional ke lembaga Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA) di Jerman tahun ini. ISI Yogyakarta memegang peringkat akreditasi internasional menjadi peringkat kedua setelah Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Muhammad Solahuddin menjelaskan, hanya terdapat dua kampus yang telah berhasil memegang peringkat akreditasi internasional tersebut. Yang pertama Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian ISI Yogyakarta di peringkat kedua.
“Sehingga langkah ini menandai komitmen ISI Yogyakarta. Yakni untuk menjadi pusat pendidikan seni rupa berstandar internasional,” tandasnya.
Menurutnya, proses pengajuan ini melibatkan biaya sekitar Rp 800 juta, yang telah disiapkan dengan matang. Dokumen pengajuan akreditasi internasional sudah disusun sejak tahun lalu dan proposal beserta rencana pembayaran telah diajukan.
“Sudah disusun sejak 2023. Ada enam program studi (Prodi) yang diajukan, yaitu Desain Interior, Desain Produk, Desain Komunikasi Visual, Seni Murni, Kriya dan Tata Kelola,” ungkapnya.
Pihaknya berharap dengan memperoleh akreditasi internasional, indikator kinerja utama poin kedelapan, yang melibatkan produksi berstandar internasional dari ISI Yogyakarta. Sehingga melalui akreditasi internasional ini, umur indikator kinerja berstandar internasional dapat terpenuhi.
“Kendala utama yang dihadapi dalam proses akreditasi internasional adalah pembayaran, karena melibatkan transaksi dalam mata uang EURO. Maka dari itu, kampus tengah melakukan negosiasi dengan FIBAA untuk memastikan kelancaran proses keuangan,” jelasnya.(suf/sam)










