BMKG Imbau Masyarakat Jateng Waspadai Musim Hujan

Prakirawan BMKG Jateng, Haris Syahid Hakim
Prakirawan BMKG Jateng, Haris Syahid Hakim. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang mengimbau masyarakat agar mewaspadai cuaca ekstrem di Jawa Tengah (Jateng). Diperkirakan hingga awal Februari mendatang intensitas hujan deras akan meningkat.

“Secara klimatologi memang bulan Januari puncak musim hujan dan hingga nanti awal Februari. Jadi memang hampir merata, dari utara, tengah hingga selatan sudah diguyur hujan,” kata Prakirawan BMKG Jateng, Haris Syahid Hakim saat ditemui di kantornya, Rabu (24/1/24).

Haris menyebut bahwa pada musim hujan ini intensitas hujan biasanya terjadi disertai dengan angin kencang dan juga petir. Oleh karena itu pihaknya meminta agar masyarakat selalu waspada.

“Kalau di musim hujan ini biasanya karakteristiknya hujan dengan angin kencang. Bukan artian kalau musim hujan ini angin puting beliung tapi angin kencang. Itu yang harus dibedakan, kalau angin puting beliung itu kan berputar ya. Kemudian juga petir ya, biasanya kalau musim hujan ini awan-awan hujan mengandung petir,” paparnya.

Ia mengungkapkan bahwa seluruh wilayah Jateng secara merata memiliki kerawanan bencana. Seperti wilayah pesisir utara dan selatan yang jenisnya adalah genangan air atau banjir, dan bisa lebih diperparah lagi dengan Rob.

“Untuk di selatan bisa diperparah dengan angin kencang. Kemudian untuk di bagian tengah mungkin. Terus bagian timur itu bisa longsor, angin puting beliung hingga hujan es,” tambahnya.

Ketika disinggung terkait El Nino, Haris mengaku bahwa hingga saat ini El Nino masih berdampak secara global. Sehingga diakuinya, bahwa intensitas hujan saat ini sedikit berkurang dibanding musim hujan biasanya.

“Sekarang kondisinya normal di 1.25 jadi memang sedikit mengurangi curah hujan. Jadi tidak memperparah ketika hujan lebat,” ujarnya.

Sebagai informasi, data BMKG menunjukkan bahwa El Nino setidaknya bertahan pada level moderat hingga Februari 2024. Namun kemudian diprediksi bakal turun secara bertahap di level lemah di bulan Maret. Kemudian mulai awal April 2024 menuju kondisi netral. (luk/adf)