BANTUL, Joglo Jateng – Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau yang disapa Gus Yahya menyebut bahwa secara umum kader NU sudah memiliki wawasan yang terbuka dan luas. Hanya menyisakan satu-dua orang yang bisa dibilang tertinggal, itu pun sangat langka.
“Yang tertinggal ini, kalau di dalam ngaji di pondok itu disebut nrecel atau nadir. Nadir itu ketinggalan. Artinya, kalau dunia sudah berjalan seperti ini tidak usah ditunggu, kita jalan terus saja,” ujarnnya saat pembukaan konferensi besar NU 2024 dan halaqah nasional strategi peradaban NU, dalam rangka Harlah NU ke-101 di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, belum lama ini.
Gus Yahya menjelaskan bahwa pada tahun 80-an di dalam NU pernah terbentuk dua kubu yang mengusung arus pemikiran masing-masing. Yang pertama mengusung narasi perluasan wawasan dan yang ke dua mengutamakan penataan internal.
“Maka sebetulnya akidah-akidah itu, khusus perluasan wawasan sudah boleh kita anggap selesai. Karena generasi yang tumbuh sejak tahun 80an hingga saat adalah generasi yang pada umumnya merupakan hasil didikan dari para pembaharu NU pada tahun-tahun itu,” terangnya.
Sementara itu, perihal penataan internal ia mengatakan, hal itu sudah dirintis sejak zaman kepemimpinan Gus Dur. Sehingga untuk yang sekarang ini hanya tinggal melakukan penyempurnaan dari semua yang telah ada.
“Dan hari ini kita sudah dalam kapasitas untuk melakukan dua-duanya sekaligus: memperluas wawasan dan melakukan penataan organisasi. Bahkan, tidak hanya perluasan di kalangan NU saja, tapi perluasan wawasan baru yang dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat yang lebih luas. Baik domestik mau pun internasional,” paparnya.
Wakil Rais A’am PBNU KH Afifuddin Muhajir juga turut menyampaikan bahwa NU dikenal sebagai organisasi keagamaan dan organisasi masyarakat. Bahkan ia menyebut kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. NU juga mendasarkan paham keagamaannya dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma, dan Al-Qiyas.
Lebih lanjut, secara garis besar ajaran Islam itu ada tiga, pertama ajaran akidah dan yang kedua ajaran akhlak tasawuf. Selanjutnya yang ketiga yakni al ahkam al amaliyyah, yang mengatur perilaku dan tingkah laku manusia baik dalam hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala maupun antar sesama manusia.
“Dari itu kemudian hadirlah konsep ibadat dan muamalat. Muamalat ini jangkauannya sangat luas, termasuk persoalan politik, persoalan ke tata negaraan, perjuangan, dan sebagainya,” pungkasnya. (nik/gih)










