Kopi Endemica, Kopi Asli dari Pegunungan Medini Kendal

KHAS PERDESAAN: Dua barista tengah menyeduh Kopi Endemica Pucu'e Kendal, belum lama ini. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

MEMANFAATKAN apa yang ada mungkin kata yang tepat untuk hal yang dilakukan oleh Wahyudi. Dirinya bersama teman-teman yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunungsari sukses membuat produksi kopi asli kawasan Pegunungan Medini, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.
“Kebun kopi sudah ada sejak sebelum saya lahir. Awalnya saya punya warung kelontong yang menyediakan kopi sachet, yang ngopi warga lokal. Suatu ketika ada bapak-bapak, bilang kopi kene bakale ilang karena anak mudanya gak mau jadi petani kopi,” katanya pada Joglo Jateng, belum lama ini.
Merasa disadarkan oleh kalimat dari sesepuh kampungnya itu, Wahyudi akhirnya terjun di perkopian mulai 2014. Hingga akhirnya sukses membuat produk pertamanya pada 2017 silam.
“Saya coba terjun di dunia kopi, bersama teman-teman akhirnya lahir produk ini. Saya mulai 2014, tapi launching produk 2017. Dulu produknya hanya diikat karet plastik,” jelasnya.
Wahyudi mengklaim kopi yang memiliki julukan Kopi Endemica ini merupakan produk original tanah kelahirannya. Biji kopinya asli dari para petani kopi di daerahnya. Kopi berjenis arabica menjadi produk unggula miliknya. Selain itu, dia juga memiliki kopi jenis robusta.
“Khasnya kita tidak mendatangkan kopi dari luar daerah. hanya ada di lereng urangaran yang kita jual,” ujarnya.
Untuk menikmati Kopi Edemica, masyarakat bisa menikmatinya dengan dua cara. Beli kemasannya atau datang langsung ke warung kopi (warkop) Pucu’e Kendal.
“Varian kopi robusta yang 100 gram itu Rp 15 ribu, yang 250 gram itu Rp 35 ribu. Kalau arabica 100 gram itu Rp 25 ribu yang 250 gram Rp 60 ribu. Kita tidak hanya menawarkan kopi, tapi sisi lain dari dusun kami perilaku kehidupan masyarakat. Masih ramah tamah, khas perdesaan masih terjaga,” tandasnya. (luk/adf)