Ekonomi Sirkular sebagai Solusi Masalah Sampah

Dosen FEB UGM Luluk Lusiantoro
Dosen FEB UGM Luluk Lusiantoro. (HUMAS/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menyoroti pemanfaatan sampah sebagai solusi ekonomi sirkular. Hal ini dikarenakan permasalahan sampah menjadi persoalan serius di masyarakat global, termasuk Indonesia.

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM dan pakar ekonomi sirkular, Luluk Lusiantoro menyoroti pentingnya mengubah cara pandang dalam mengelola sampah, baik dari sisi konsumen maupun produsen. “Sampah tidak hanya sebatas pengelolaan sampah fisik di jalanan atau TPA, tetapi juga melibatkan sistem secara menyeluruh. Ekonomi sirkular mengacu pada konsep di mana sampah yang dihasilkan dari konsumsi harus kembali ke produksi tanpa meninggalkan limbah,” ungkapnya.

Selamat Idulfitri 2024

Pihaknya menambahkan, langkah awal pengentasan sampah ini dapat dimulai dengan reduce, reuse, recycle (3R), yakni memilah sampah sejak dari sumbernya, mulai dari rumah tangga hingga perusahaan. “Memilah sampah dari sumbernya adalah langkah dasar yang perlu dilakukan. Meskipun begitu, masih ada tantangan dalam menerapkan pemilahan sampah. Banyak rumah tangga yang belum sadar akan pentingnya pemilahan sampah, dengan benar,” tuturnya.

Baca juga:  Jelang Idulfitri, Harga Daging Sapi Cenderung Naik

Hal serupa terjadi pada perusahaan dan fasilitas publik yang masih kurang dalam melakukan pemilahan sampah. Sering kali hanya menyerahkan pada rekanan untuk mengelola sampah. Oleh karena itu, pihaknya mendorong pemberian insentif sebagai salah satu solusi untuk mengubah perilaku memilah sampah.

“Contohnya, Desa Panggungharjo di Bantul, DIY, telah memberikan insentif bagi rumah tangga yang berhasil memilah sampah. Insentif tersebut bisa digunakan untuk mengurangi pembayaran iuran sampah, sementara bagi yang tidak memilah sampah, biaya iuran sampahnya menjadi lebih mahal,” imbuhnya.

Selain pemilahan sampah, Luluk juga menekankan pentingnya edukasi bagi petugas pengumpul sampah. Hal ini untuk menghindari praktik mencampur kembali sampah yang telah dipilah di mobil pengangkut sampah. “Yang akhirnya mengakibatkan perlu dilakukan pemilahan kembali di Tempat Penampungan Sementara (TPS) 3R,” pungkasnya. (suf/abd)