Lezatnya Coro Santan dan Ketan Biru di Pasar Kuliner Kauman

AKTIVITAS: Salah satu penjual makanan legendaris coro santan dan ketan biru saat menyajikan kedua makanan itu di lapak dagangnya di Pasar Kuliner Kauman Semarang, belum lama ini. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

MENU takjil legendaris coro santan dan ketan biru menjadi jajanan yang hanya muncul saat Bulan Puasa di Pasar Kuliner Kauman. Keduanya adalah jajanan legendaris, khas dari Kota Semarang.

Penjual lapak kue coro santan dan ketan biru, Istiqomah (64) mengatakan, coro santan merupakan jajanan yang diolah dari tepung beras, tepung gandum, telur, ragi, dan gula. Kemudian, dinikmati dengan tambahan santan kelapa.

Selamat Idulfitri 2024

“Saya generasi kedua, nerusin ibu saya. Ada tiga makanan yang khas. Ketan biru, coro santan, sama petis bumbon. Selain Ramadan tidak ada yang jual,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

Baca juga:  Berburu Takjil Bubur Legendaris di Masjid Pekojan

Cita rasanya yang manis dari ketan biru menjadi yang paling disukai oleh masyarakat. Makanan tersebut terbuat dari ketan yang dicampur dengan pewarna makanan bewarna biru. Penyajiannya ditambahkan dengan parutan kelapa yang telah dicampur dengan gula jawa. Sehingga menciptakan rasa manis saat menelannya.

“Kalau ketan biru harganya Rp 7 ribu per bungkus. Kue cucurnya, 1 porsi isi dua Rp 5 ribu,” jelasnya.

Dalam satu hari, kata Istiqomah, dirinya bisa menghabiskan sekitar 2 kilogram adonan kue cucur santan maupun ketan biru. Selain kedua makanan tersebut, petis bumbon juga menjadi salah satu makanan berat yang hanya bisa ditemukan saat Ramadan di Kota Semarang.

Baca juga:  Berkah Ramadan, Penjualan Peci Batik Jogokaryan Naik 5 Kali Lipat

Resep makanan ini menggunakan rempah-rempah yang beraneka ragam. Mulai dari daun jeruk wangi, sereh, daun salam, laos, dan petis banyar.

Selain bumbunya yang khas, proses untuk membuat petis bumbon juga terbilang lama. Yaitu sekitar 1 hingga 2 jam. Dalam satu hari, dirinya bisa memasak sekitar 8 kilogram adonan dengan sekitar 100 butir telur bebek.

“Sebenernya kalau cara masaknya hampir mirip sambal goreng. Yang beda cuma bumbu rempah-rempahnya. Kalau petis bumbon harganya Rp 10 ribu, 1 telur,” katanya.

Ia kini memiliki banyak pelanggan tetap dari dalam maupun luar kota. Mulai dari dalam Kota Semarang, Pekalongan, dan masih banyak lagi.

Baca juga:  Nikmati Suasana Puasa di Kebun Dakwah Sorustan

“Mayoritas dari kalangan muda dan tua, mereka semua suka (ketan biru dan coro santan, Red.),” pungkasnya.

Sementara itu, Faradila asal Jatisari Mijen (24) mengaku sudah berkali-kali beli coro santan dan petis bumbon setiap Bulan Puasa. Menurutnya, coro santan itu enak dan tidak aneh ketika dimakan saat berbuka puasa.

“Apalagi kan ini cuman ada saat bulan puasa. Jadi sayang banget kalau gak beli,” kata dia. (int/adf)