Kudus  

Hidupkan Desa melalui Budaya dan Ekonomi Kreatif

BAWA PUISI: Salah satu penampilan dalam event halalbihalal di Pengembangan Teknologi Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, belum lama ini. (DOK. KBPW/JOGLO JATENG)

KEBUDAYAAN menjadi salah satu faktor penting yang turut mendorong kemandirian desa. Dengan adanya kemandirian desa, roda ekonomi warga akan ikut bergerak.

Spirit merawat kebudayaan memantik pemuda dan masyarakat Piji Wetan, Desa Lau, Dawe, Kudus untuk mendiskusikan masa depan desa di momen halalbihalal. Gelaran yang diinisiasi Kampung Budaya Piji Wetan ini digelar di Pengembangan Teknologi Desa Lau, belum lama ini.

Menurut pemaparan Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan, M Zaini, kemandirian desa dapat didorong melalui spirit merawat kebudayaan. Sebab, kebudayaan dapat menjadi spirit untuk mensimulasi desa dan masyarakat di dalamnya.

“Baru pertama kali ini halalbihalal sekaligus lokakarya dan diskusi digelar. Dan ini semoga bisa menghidupkan semangat masyarakat untuk terus guyub,” katanya.

Tema yang dikaji adalah Membaca Masa Depan Desa Lau melalui Budaya dan Ekonomi Kreatif. Menurut Zaini, ekonomi kreatif sangat mendesak dan harus dijembatani.

“Maka nantinya melalui ide dan gagasan di KBW. Tentu diharapkan menciptakan kemandirian desa. Dan tentu dibarengi keyakinan yang kuat sehingga melahirkan sesuatu yang hebat,” tandas Zaini

Manager Program KBPW, M Farid, turut menyebutkan, di Kudus dan di KBPW khususnya banyak pemuda kreatif dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari seniman mural, aktor, ahli setting, dan lain-lain.

“Maka bagaimana mural ini menjadi ekspresi nilai-nilai agama. Dan hal itulah yang ingin kami kenalkan kepada masyarakat. Kita punya misi menstimulasi kemandirian desa berdasarkan spirit budaya,” ujarnya.

Ia membeberkan alasan pemilihan budaya bukan wisata. Menurutnya, dengan budaya otomatis akan menjadikan orang berbondong-bondong mencari tahu. Sehingga secara tidak langsung menjadikan wadah wisata dan dorongan ekonomi masyarakat.

“Misalnya pada Bali yang terkenal budayanya dahulu yaitu tari kecak. Orang yang kecenderungan haus ilmu hingga sekarang akan dicari banyak orang,” bebernya.

Hal inipun, lanjut Farid, bisa terjadi di Kawasan Muria sebagai pusat peradaban dan perdagangan.

“Kemandirian ekonomi akan membentuk simpul sosial. Dengan modal sosial, modal kebudayaan dan modal ekonomi,” tandasnya. (cr1/adf)