11 Balon Udara Liar Ganggu Penerbangan di Bandara Ahmad Yani Semarang

RAMAI: Warga menyaksikan penerbangan balon udara saat Festival Balon Wonosobo 2024 di Lapangan Candiyasan, Kertek, belum lama ini. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Otoritas Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang menerima laporan ada 11 balon udara liar yang mengganggu penerbangan bersamaan dengan dilaksanakannya Festival Balon Udara di Wonosobo dan Pekalongan. Ketinggiannya bahkan mencapai 9000 feet.

General Manajer Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang Fajar Purwawidada membenarkan ada komplain masuk terkait adanya obyek terbang di jarak 50 nautical-mile. Tepatnya di sisi barat dari Bandara Ahmad Yani Semarang. Kendati sudah diantisipasi agar balon ditambatkan, masih ada beberapa masyarakat yang mungkin lalai.

“Memang ada beberapa yang liar dan tanpa izin, dan kemarin ditemukan ada 11 balon di ketinggian 8000 sampai 9000 feet yang dikhawatirkan mengganggu operasional pesawat,” jelas Fajar, belum lama ini.

Meski demikian Fajar mengaku tidak ada pengalihan rute penerbangan. Laporan pilot kepada Otoritas Bandara adalah sebagai antisipasi agar pilot lain waspada. “Tidak ada (pengalihan rute). Namun dari Airnav sudah mengeluarkan notice kepada penerbang melalui jalur itu agar lebih waspada,” imbuhnya.

Sementara General Manajer Airnav Cabang Semarang Budi Mahmudi membenarkan laporan tersebut. Menurutnya, Festival Balon Udara telah menjadi budaya masyarakat di Wonosobo dan Pekalongan. Ketika dulu balon dilepaskan liarkan, kini wajib ditambatkan, karena berbahaya bagi penerbangan.

“Yang disampaikan Pak GM (Fajar Purwawidada) memang kemarin ada 11 balon itu dari laporan pilot report karena kita kan mengontrol. Di sini kan cuma tahu dari pilot report,” ungkapnya.

Pihaknya juga telah mengeluarkan peringatan kepada pilot pesawat terbang atau NOTAM (Notice to Airman) di sekitar Pekalongan terkait adanya Festival Balon Udara tersebut. Sehingga pilot lebih waspada.

Lebih lanjut, kata dia, total Airnav Semarang mendapat 24 laporan terkait obyek terbang yang mengganggu penerbangan. Jumlah ini menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 60 laporan.

“Jauh menurun, laporan tahun lalu sekitar 60 dan kemarin sekitar 24 (laporan) itu artinya sudah lebih turun. Jadi terus diupayakan agar masyarakat semakin sadar bahwa tradisi yang mereka lakukan itu berbahaya jika tidak dikontrol,” tandasnya. (luk/gih)