Museum Ronggowarsito: Peran Vital Sejarah dalam Menjaga Identitas Bangsa

BERI PENJELASAN: Salah satu mahasiswi PKL saat menjelaskan satu per satu sejarah dari koleksi peninggalan sejarah Jawa Tengah di Museum Ronggowarsito. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Museum Ronggowarsito menekankan pentingnya anak muda untuk mengingat sejarah. Sebab, generasi muda saat ini perlu tau sejarah bangsa sendiri. Tujuannya agar mereka tidak mudah ditipu atau direbut wilayahnya oleh bangsa lain.

Subkoor Pelayanan Permuseuman Museum Ronggowarsito, Antoni Heri Nugroho mengungkapkan, museum memiliki tiga peran penting dalam menjaga sejarah. Di antaranya, unik karena menyimpan benda atau salah yang bernilai sejarah, didominasi barang-barang kuno, dan autentik karena menjadi saksi atau bukti sejarah yang tidak terbantahkan.

Lebih lanjut, ia menerangkan, barang autentik yang ada di museum bisa diibaratkan dalam bentuk akta kelahiran seseorang. Seperti contohnya, kapan dan di mana kita dilahirkan dan nama orang tua.

“Apabila di suatu wilayah tidak punya sejarah dia akan mudah diinvasi oleh pihak lain dan akhirnya dia tidak bisa semangat untuk mempertahankan-nya,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

KOLEKSI: Salah satu replika yang menunjukkan pemandangan pertempuran yang terjadi di suatu wilayah Provinsi Jawa Tengah di Museum Ronggowarsito Jalan Abdulrahman Saleh No.1, Kelurahan Kalibanteng Kidul, Kecamatan Semarang Barat, belum lama ini. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

Dalam mengingat kembali sejarah kepada generasi muda dan masyarakat Jawa Tengah, kata Antoni, Museum Ronggowarsito hadir sebagai tempat edukasi, tempat wisata, dan literasi dengan berbagai program unggulan.

“Kami memiliki beberapa program yang menjadi ikonik itu Ayo Dolan Museum yang branding itu hanya dimiliki oleh Museum Ronggowarsito saja. Kemudian, Belajar Bersama Museum (BBM) guna melakukan pendekatan kepada masyarakat khususnya pelajar untuk mengenalkan museum. Dalam BBM ini kita ambil tiga unsur (target sasaran, Red.) yaitu pelajar, Musyawarah Guru Mata Pelajaran IPS, dan Ibu-ibu PKK Dharma Wanita se-Jateng,” terangnya.

Alasan utama sasaran kepada ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita, lanjut Antoni, adalah karena sosok ibu merupakan sumber informasi dan pendidikan bagi anak. Dirinya menjelaskan, hanya ibu lah yang bisa mendidik anak agar menjadi seorang yang hebat. Diharapkan, ibu PKK ini bisa menceritakan tentang museum ke anaknya.

Ia menuturkan, pihaknya menggunakan berbagai cara agar sejarah yang disampaikan kepada pengunjung informatif dan objektif. Salah satunya, memercayai dengan apa yang dibaca diberbagai media, seperti prasasti yang ditulis dalam bebatuan, daun, pohon, dan candi.

Memperingati Hari Pahlawan, dirinya berharap anak-anak muda saat ini dan masyarakat agar mencintai Indonesia, dengan cara mencintai ibu. Hal ini ia yakini lanjaran sejarah tentang proses anak terletak pada kedua orang tua.

“Tanpa mereka kalian tidak ada sampai saat ini. Rawatlah mereka sampai tua dan tiada.  Itu adalah salah satu cara untuk kita mempertahankan NKRI,” ucap Antoni. (int/adf)