KUDUS, Joglo Jateng– Seserahan dalam pernikahan merupakan tradisi yang telah mengakar kuat di berbagai daerah di Indonesia. Namun, seiring perkembangan zaman, nilai dan maknanya semakin bergeser. Bukan sekadar simbol kesiapan mempelai pria untuk menafkahi istrinya, seserahan kini sering kali menjadi ajang gengsi dan pembuktian status sosial.
Kasi Bimas Islam Kemenag Kudus, Sulthon, menyoroti fenomena ini. Menurutnya, seserahan memang memiliki nilai simbolis, tetapi tidak seharusnya menjadi beban yang berlebihan.
“Kadang-kadang miris melihat tradisi ini. Padahal yang lebih penting adalah kesiapan mental dan spiritual pasangan, bukan seberapa besar seserahannya,” ujarnya.
Di era modern, pernikahan semakin dipengaruhi oleh faktor materialisme. Banyak pasangan lebih fokus pada kemewahan pernikahan daripada kesiapan mereka dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Hal ini berisiko membuat pasangan terjebak dalam tekanan finansial sebelum resmi menikah.
Beberapa pasangan kini mulai menyederhanakan tradisi seserahan dengan menyesuaikannya dengan kemampuan finansial masing-masing. Mereka lebih menekankan nilai-nilai esensial dalam pernikahan, seperti komitmen, tanggung jawab, dan komunikasi yang baik.
Pergeseran pandangan terhadap seserahan ini menjadi refleksi bahwa makna pernikahan sejatinya bukan terletak pada besarnya baranggyang diberikan, tetapi pada kesiapan dan kesungguhan pasangan dalam membangun keluarga yang harmonis.
“Tradisi tetap bisa dijaga, namun harus disesuaikan dengan kondisi agar tidak menjadi beban yang justru menyulitkan perjalanan menuju pernikahan,” Tutup Sulthon. (cr7)










