JEPARA, Joglo Jateng – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Jepara menyelenggarakan giat pelayanan Keluarga Berencana (KB) serentak gratis pada 1-28 Februari 2025 di seluruh fasilitas kesehatan (faskes) masyarakat. Dalam waktu satu bulan tersebut, jumlah akseptor KB di Kabupaten Jepara mencapai 4.450 orang.
Kepala DP3AP2KB Kabupaten Jepara, Muh Ali menyampaikan bahwa ribuan akseptor berasal dari akumulasi jumlah semua metode layanan KB atau kontrasepsi seperti, implant, IUD, suntik, pil, maupun KDM (kondom). Jumlah tersebut pun melebihi akumulasi target dari kabupaten yang awalnya 2.501 akseptor.
“Kalau target sasaran di Jawa Tengah itu rata-ratanya 140 persen dan kita mencapai 185 persen, melebihi target yang ditentukan oleh pemerintah provinsi,” terang Ali pada Joglo Jateng, Senin (10/3).
Sebelum pelayanan KB dilakukan di seluruh layanan faskes, baik institusi milik pemerintah, swasta, maupun di bidan praktek, petugas layanan KB melakukan sosialisasi di setiap kecamatan untuk memberi pemahaman pentingnya KB. Adapun sasaran pada pelayanan KB menjangkau ibu rumah tangga dengan usia masa subur hingga sebelum monopous.
“Kita edukasi terlebih dahulu supaya mau ber-KB agar jarak kelahiran anak pertama dengan anak kedua kalau bisa 5 tahun, supaya anak bisa terawat dengan baik,” jelasnya.

Ali menyampaikan, pelayanan KB perlu digiatkan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi karena kehamilan yang tidak diinginkan ataupun jarak kelahiran yang terlalu dekat. Selain itu, berdasarkan hasil survei tahun 2023, terdapat 10,89 persen kasus stunting terjadi di Jepara.
“Karena Jepara stuntingnya masih tinggi. Kalau sudah stunting, meluruskannya sulit. Maka dengan ber-KB dapat terencana, merawat anak agar tidak stunting,” jelasnya.
Ali menegaskan bahwa layanan KB menjadi upaya dari pemerintah untuk menekan angka stunting di Jepara. Dengan ber-KB, para akseptor bisa mengatur jarak kehamilan, fokus merawat anak, sehingga diharapkan tidak terjadi stunting. “Dengan harapan terciptanya ketahanan keluarga yang sehat dan sejahtera, sehingga tidak terjadi perceraian,” ucapnya.
Capaian akseptor ini, lanjutnya, tidak lepas dari peran organisasi kemasyarakatan seperti Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dalam menjangkau kepesertaan KB di lapisan masyarakat paling bawah. “Karena layanan KB ini kita bekerjasama dengan Muslimat di Jepara dan kinerja kita faktual di semua balai faskes,” tutupnya. (oka/gih/adv)










