Dalam kegiatan tersebut, Boen Hian Tong juga mengajak tamu undangan untuk mencicipi rujak pare sambal bunga kecombrang. Tradisi ini sebagai pengingat pahitnya mengenang banyaknya kekerasan yang terjadi pada Mei 1998, terutama terhadap kaum perempuan etnis Tionghoa.
“Pare itu kan rasanya pahit, sedangkan bunga kecombrang sebagai simbol perempuan Tionghoa yang teraniaya pada saat itu,” ungkapnya.
Salah satu keunikan dari kegiatan rutinan pada tahun ini, kata Halim, pihaknya turut menyajikan puluhan porsi soto ayam, yang mana menjadi makanan khas dari Kota Semarang.
“Selain itu kami juga menghadirkan Bang Azmi yang merupakan pendiri Museum Peranakan Tionghoa. Beliau orang Aceh dan muslim tapi dia yang mengangkat jasa-jasa Tionghoa di Indonesia,” katanya.
Dirinya berharap, dengan adanya kegiatan ini, dapat menghilangkan stigma negatif bahwasanya etnis Tionghoa yang dinilai acuh terhadap kaum pribumi, begitupun sebaliknya. (int/adf)










