Figur  

Dari Panggung Seni ke Cita-Cita Polwan: Dea Buktikan Mimpi Tak Ada Batas

Elysa Deana Putri. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Dari sekian banyak tarian yang ia kuasai, Dea paling menyukai Tari Orek-Orek khas Rembang. Namun, ada dua tarian yang paling sering ia pentaskan, yakni Tari Pecinan Lasem dan Tari Gondoriyo.

Dea bahkan menciptakan sendiri sebuah tarian berjudul Tari Penen Madu, yang terinspirasi dari kehidupan petani lebah di desanya.

“Kalau Tari Penen Madu itu saya buat sendiri. Ada gerakan ‘menjadi’ dan ‘kuncup’. Maksudnya seperti proses bunga mekar dan ditarik madunya. Saya ingin menyampaikan pesan bahwa dari alam pun kita bisa belajar banyak,” terangnya.

Selain itu, Dea sangat suka berolahraga. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, ia menyempatkan diri untuk jogging atau latihan fisik ringan. Hal ini dilakukannya bukan tanpa tujuan. Ia punya cita-cita besar yakni menjadi seorang polisi wanita (polwan).

“Saya ingin jadi polwan. Karena itu saya harus jaga kesehatan dan fisik dari sekarang. Menari dan olahraga itu bekal saya,” katanya.

Bagi Dea, menari dan menjadi polwan mungkin terlihat dua jalan yang berbeda. Namun, keduanya menyatu dalam semangat yang sama yaitu disiplin, dedikasi, dan keberanian untuk bermimpi besar.

“Kalau kita punya impian, jangan ragu untuk mulai dari sekarang. Walau kecil, asal kita serius dan konsisten, pasti akan jadi besar,” ujarnya. (uma/adf)