Jepara  

Bayi di Jepara Meninggal, Dokter: “Bukan Semata-mata karena Imunisasi, Ada Faktor Dehidrasi dan Infeksi

SAYANG ANAK: Ilustrasi ibu-ibu saat pemeriksaan imunisasi di Posyandu Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, beberapa waktu lalu. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya dehidrasi dan infeksi bakteri yang sudah menyebar ke seluruh tubuh.

Dokter Fuad pun segera memberikan rujukan ke RS PKU Mayong agar bayi mendapatkan penanganan lebih lanjut. Saat tiba di IGD, kondisi sang bayi sudah kritis. “Petugas kesulitan mencari nadi untuk infus karena kondisi bayi lemas, mencari nadi sampai tujuh kali,” ujarnya.

Setelah itu, bayi dipindahkan ke ruang ICU dan dipasangi ventilator. Kondisinya sempat membaik pada 27 Juni 2025 malam. Sang bayi bahkan bisa menangis sebentar. Namun, menjelang pagi, kondisinya kembali memburuk.

“Menjelang pagi terjadi kejang dan jantung sempat berhenti. Dokter kembali pasang selang jantung, tapi kondisi terus menurun. Malam minggu masih ada respons kaki,” ucapnya.

Pada 29 Juni 2025 Minggu pgi pukul 08.07 WIB, sang bayi dinyatakan meninggal dunia. Diva bersama istrinya sangat terpukul atas kelihangan sang buah hati. Kendati sudah kehilangan, Diva dan istri tidak mau menuntut pihak manapun. Namun, keduanya ingin ada kejelasan lebih lengkap terkait prosedur imunisasi yang dilakukan di desa.

“Kami sangat terpukul atas kepergian anak pertama kami. Kami mempertanyakan bagaimana prosedur selama imumisasi, karena waktu imunisasi bayi tidak di cek suhu,” ujarnya.

Diva pun berharap agar ke depannya tidak ada kejadian serupa, di mana bayi harus meregang nyawa usai di imunisasi. “Buat Posyandu, setelah anak imunisasi antara 1-2 hari ada bidan desa yang mem-follow up terkait hasil imunisasi,” tutupnya.