Jepara  

Bayi di Jepara Meninggal, Dokter: “Bukan Semata-mata karena Imunisasi, Ada Faktor Dehidrasi dan Infeksi

SAYANG ANAK: Ilustrasi ibu-ibu saat pemeriksaan imunisasi di Posyandu Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, beberapa waktu lalu. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Seorang bayi perempuan asal Desa Wanusobo, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara meninggal dunia usai disuntik imunisasi Difteri, Pertusis, dan Tetanus (DPT) 1 di Posyandu setempat. Bayi tersebut meninggal 17 hari setelah imunisasi tersebut.

Bayi berusia 2,5 bulan itu merupakan buah hati pertama dari pasangan muda bernama Mauliddiva Muhammad Kenangkana (27) dan Reza Meutia Agustina (20), yang tinggal di RT 5 RW 1 Desa Wanusobo. Bayi tersebut lahir 2 April 2025 dan merupakan bayi yang ditunggu-tunggu selama dua tahun menikah.

Saat Joglo Jateng datang di kediamannya, rasa sedih dan kecewa masih menyelimuti keluarga mereka sejak kepergian sang buah hati.

Ayah Bayi, Diva sapaannya menceritakan, bayinya meninggal setelah menjalani imunisasi yang kedua dengan jenis imunisasi DPT 1 di Posyandu Melati. Imunisasi pertama dilakukan pada 15 Mei 2025 dan berlangsung lancar. Bayinya disuntik di lengan bagian kanan dan tidak menunjukkan gejala yang mencurigakan.

Pada imunisasi kedua pada 12 Juni 2025, imunisasi disuntikkan pada paha kaki sebelah kiri bayi. Namun pada 13 Juni, sang bayi mulai menunjukkan reaksi dengan gejala panas dan tidak mau meminum obat. Karena dirasa reaksi tersebut merupakan efek imunisasi, dirinya menunggu hingga 3 hari sampai demam menurun dan bengkaknya kempes.

“Saat imunisasi kedua, disuntik di paha kiri. Bidan bilang bisa timbul efek samping berupa demam dua hingga tiga hari. Kalau bengkak cukup dikompres,” jelasnya pada Joglo Jateng, Rabu (9/7).

Keesokan harinya, pada 14 Juni 2025 sore hari, bayi mulai demam hingga suhu mencapai 39 derajat celcius. Bidan setempat menyarankan agar ketika panas, bisa diberi obat penurun panas jenis Sunmol. “Saya langsung beri obat yang disarankan. Diminumin obat nolak, jadi muntah. Kemudian diberi ASI mau,” ujarnya.

Selain demam, paha sang bayi juga tampak membengkak. Kondisi itu berlangsung hingga tiga hari. Setelah itu, suhu dan kondisi anak sempat membaik. “Pada waktu itu demam turun, saya senang karena pikir saya akan sembuh. Bengkaknya mulai kempes tapi nggak kempes banget,” tambahnya.

Namun, sekitar dua minggu setelah imunisasi kedua, pada 26 Juni 2024 malam hari pukul 01.00 WIB, bayi mereka mendadak terbangun dengan tatapan kosong ke arah atas dan tidak bersuara. Khawatir dengan kondisi tersebut, keesokan paginya Diva membawa anaknya ke Klinik dokter Fuad yang tak jauh dari rumah mereka.