Jepara  

Bayi di Jepara Meninggal, Dokter: “Bukan Semata-mata karena Imunisasi, Ada Faktor Dehidrasi dan Infeksi

SAYANG ANAK: Ilustrasi ibu-ibu saat pemeriksaan imunisasi di Posyandu Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, beberapa waktu lalu. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

Dokter Sebut Akibat Syok Hipovolemik dan Penyebaran Infeksi

Sementara itu, salah satu dokter di PKU Mayong, dr Rachmad Alsy Fandi menyebut bahwa penyebab kematian sang bayi sebenarnya disebabkan oleh Syok hipovolemik karena dehidrasi berat, muntah berulang, infeksi sistematik yang sudah menyebar keseluruh tubuh (sepsis), dan kejang.

Diketahui, dirinya menanggani bayi pasangan suami istri, Mauliddiva Muhammad Kenangkana (26) dan Reza Meutia Agustina (20) ketika sudah masuk di dalam ruangan ICU. Dr Alsy mengatakan, sebenarnya tidak mengetahui secara pasti keadaan bayi tersebut ketika awal masuk ke Rumah Sakit PKU Mayong.

“Saya menangani ketika kondisi kegawatan di ICU pasang ventilator. Penyebabnya dia (bayi) demam karena bilangnya pahanya bengkak. Saya tidak menerima langsung saat di IGD. Pahanya bengkak setelah disuntik imunisasi, kelurga bilang begitu,” ucapnya.

Menurutnya, dari laporan awal disebutkan bayi sudah mengalami infeksi. Namun, untuk mengetahui sumber infeksi secara pasti, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan. “Diagnosa saat masuk itu, memang infeksi. Sumber infeksinya harus digali lagi apakah murni dari situ atau sebab yang lain,” terangnya.

Berdasarkan hasil laboratorium, ditemukan adanya kelainan trombosit serta penyebaran infeksi ke seluruh tubuh. Namun, dr Alsy menegaskan bahwa penyebab kematian tidak bisa semerta-merta dikaitkan langsung dengan imunisasi, lantaran bayi tersebut mengalami penurunan kondisi setelah hampir dua minggu mendapatkan imunisasi DPT 1 tahap kedua.

“Cuma penyebab sampai meninggal itu banyak faktornya, dehidrasi, demam terlalu tinggi, kejang, infeksi. Bukan semata-mata infeksi saja,” ungkapnya.

Dr Alsy memastikan, sebenarnya di dalam imunisasi yang diberikan kepada balita itu tidak mengandung bakteri. Ia menambahkan, vaksin imunisasi seharusnya steril dan tidak mengandung bakteri. Namun, jika setelah penyuntikan terjadi pembengkakan dan tidak ditangani dengan baik, bisa menjadi pintu masuk infeksi.

“Imunisasi seharusnya tidak mengandung bakteri, mestinya steril. Tapi jika setelah penyuntikan muncul pembengkakan dan dibiarkan, itu bisa jadi sumber infeksi. Apalagi ini sudah hampir dua minggu paska imunisasi. Kalau langsung drop sehari setelah imunisasi, itu bisa lain ceritanya,” tambahnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan analisis laboratorium, dr Alsy menyimpulkan bahwa penyebab utama kematian bayi adalah syok hipovolemik akibat dehidrasi berat, muntah terus-menerus, infeksi yang telah meyebar, dan kejang.

“Penyebabnya Syok hipovolemik, karena dihidrasi berat, muntah berulang kemudian infeksinya sudah menyebar kemudian kejang, itu sumbernya. Selebihnya kelainan darah dan segala macem saya belum bisa menyimpulkan,” tutupnya. (oka/gih)