KUDUS, Joglo Jateng – Udara malam di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, terasa hangat. Gemerlap lampu hias, bau dupa yang pelan-pelan menyeruak, serta lantunan doa mengiringi langkah warga yang ikut dalam Kirab Luwur Mbah Depok Soponyono, Selasa (8/7) malam.
Tak sekadar kirab, kegiatan ini adalah bentuk cinta dan penghormatan terhadap sosok yang diyakini sebagai pendiri sekaligus penjaga awal kehidupan di desa itu. Meski hanya berupa arakan kain penutup pusaka (luwur) dan tidak disertai gunungan, kirab ini tak kehilangan sakralitas.
Warga berduyun-duyun mengikuti prosesi, dari anak-anak hingga sesepuh desa. Di sinilah tradisi bertemu harapan. Agar jejak masa lalu tak terhapus oleh waktu, dan tetap hidup di hati generasi sekarang.

Kepala Desa Kaliputu, Widiyo Pramono mengungkapkan, kirab ini lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia mengenang bagaimana ide menghidupkan kembali tradisi ini bermula dari keresahan pribadi.
“Waktu itu saya masih kerja serabutan. Tapi entah kenapa wajah Mbah Depok itu selalu terbayang. Saya berpikir, gimana kalau kita adakan kirab untuk Mbah Depok,” ceritanya.









