Warga menyambut antusias. Kini, kirab luwur menjadi bagian tak terpisahkan dari Grebeg Suro Kaliputu, yang dirangkai pula dengan pengajian, kirab jenang, dan pembagian berkat. Perayaan yang tak hanya menghidupkan budaya, tapi juga membangun solidaritas sosial.
“Dulu sebelum ada kirab, Kaliputu itu sepi. Paling ada pengajian kecil-kecilan. Tapi sekarang, dengan adanya acara seperti ini, warga jadi semangat. Anak-anak muda juga ikut, dari yang kecil sampai remaja,” paparnya.
Baginya, mengenalkan sosok Mbah Depok kepada generasi muda adalah kunci. “Kirab ini intinya biar anak-anak muda itu tahu siapa Mbah Depok, siapa yang dulu membabat desa ini. Kalau nggak dikenalkan sekarang, nanti bisa lupa,” ujarnya.
Mbah Depok Soponyono diyakini sebagai salah satu tokoh awal yang berperan dalam sejarah berdirinya Kaliputu. Banyak warga menganggapnya sebagai cikal bakal desa. Hingga kini masih dirawat keberadaannya sebagai pundian atau pusat spiritual desa. Tradisi inilah yang ingin dilestarikan.
Sementara itu, Camat Kota, Andrias Wahyu Adi Setiawan yang hadir mengapresiasi semarak budaya di Kaliputu. Pihaknya mendukung penuh acara seperti ini.
“Tradisi lokal seperti kirab luwur punya makna mendalam. Yakni sebagai sarana menjaga kebersamaan warga dan menghargai jasa para leluhur. Baik sebagai pendiri desa maupun tokoh penyebar agama,” ucapnya.
Ia menambahkan, selain nilai spiritual dan budaya, kirab seperti ini juga membawa dampak ekonomi. “Banyak usaha kecil ikut terangkat. Ini bentuk syukur, bukan hanya kepada Tuhan, tapi juga kepada warisan leluhur. Semangat gotong royong yang tercipta itu luar biasa,” tambahnya. (uma/fat)










